1.121 Warga Palangka Raya Terserang ISPA Imbas Karhutla, 140 di Antaranya Balita
PALANGKA RAYA, iNews.id – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus membakar wilayah Kalimantan Tengah di tengah musim kemarau panjang berdampak serius pada kesehatan masyarakat. Di Kota Palangka Raya, Puskesmas Bukit Hindu mencatat sebanyak 1.121 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dalam kurun waktu Agustus hingga pertengahan Oktober 2026.
Kepungan kabut asap pekat masih menyelimuti sebagian besar kawasan Kota Palangka Raya hingga Jumat (16/10/2026) siang. Buruknya kualitas udara tidak hanya mengganggu aktivitas harian warga, tetapi juga mengancam kelompok rentan, khususnya bayi dan anak-anak.
Kepala Puskesmas Bukit Hindu Palangka Raya, Hellyanan membeberkan, sejak bulan Agustus hingga 15 Oktober 2026, total pasien ISPA yang ditangani telah menembus angka 1.000 orang lebih.
"Dari total 1.121 kasus ISPA yang kami tangani, sebanyak 105 kasus dialami oleh balita dan 35 kasus dialami oleh bayi. Jadi total kasus pada kelompok bayi dan balita mencapai 140 kasus," kata Hellyanan.
Hellyanan menambahkan, mayoritas pasien datang dengan keluhan batuk, pilek, disertai demam akibat tingginya konsentrasi partikel debu dan asap di udara.
Meningkatnya paparan polusi asap membuat warga berbondong-bondong membawa balita mereka ke fasilitas kesehatan terdekat. Salah satunya adalah Julia, balita berusia 3,5 tahun yang dilarikan orang tuanya ke Puskesmas Bukit Hindu Palangka Raya setelah mengalami batuk terus-menerus selama 10 hari.
Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, Julia terkonfirmasi mengidap penyakit ISPA akibat paparan asap karhutla yang tak kunjung mereda.
"Anak saya sudah batuk-batuk selama sepuluh hari ini, apalagi di luar asap makin pekat," ungkap Frency, orang tua Julia, Jumat (16/10/2026).
Menyikapi kualitas udara yang kian tidak sehat, pihak Puskesmas mengimbau para orang tua untuk membatasi aktivitas anak di luar rumah.
Jika harus keluar ruangan, warga diwajibkan menggunakan masker medis atau masker khusus anak demi meminimalisasi risiko penularan dan iritasi pernapasan.
Editor: Kastolani Marzuki