Dilansir dari laman syekhnurjati.ac.id, dalam usia muda, Nabi Muhammad sebagai penggembala kambing keluarganya dan kambing penduduk Makkah. Melalui kegiatan pengembalaan ini, Nabi SAW menemukan tempat untuk berpikir dan merenung mengenai kondisi masyarakat Arab di zaman Jahiliyah.
Ketika pamannya, Abu Thalib memutuskan untuk pergi ke Syam dalam misi perdagangan, pada waktu itu usia Nabi Muhammad telah mencapai 9 tahun.
Ketika pamannya mau berangkat, tiba-tiba saja Nabi Muhammad bergantungan kepada pamannya dan tidak mau berpisah, yang menyebabkan pamannya berkata, “Aku akan membawanya bersamaku ke Syam dan dia tidak boleh berpisah denganku.”
Setelah sampai di sebuah kota bernama Bashrah di wilayah Syam, di tempat itu dikenal ada seorang pendeta bernama Buhaira yang selalu beribadah di tempat peribadatannya.
Mereka memutuskan untuk berteduh di bawah pohon dekat tempat peribadatan itu. Pendeta itu memperhatikan awan yang menyertai perjalanan mereka dan dahan pohon yang memayungi Nabi Muhammad sehingga dia beteduh di bawahnya dari terik matahari.