Fakhri Husaini Ogah Latih Klub, Ini Alasannya

Abdul Haris ยท Selasa, 14 Januari 2020 - 19:57 WIB
Fakhri Husaini Ogah Latih Klub, Ini Alasannya

Fakhri Husaini. (Foto: PSSI)

JAKARTA, iNews.id Fakhri Husaini punya alasan kenapa enggan melatih klub setelah purna tugas dari Timnas Indonesia U-19. Diskusi ini terus menggelinding setelah dirinya menolak tawaran menjadi asisten pelatih Timnas Indonesia membantu Shin Tae-yong.

Ya, ada nuansa kekecewaan dari Fakhri karena merasa kurang dipercaya PSSI untuk terus menjadi Pelatih Timnas U-19. Padahal, kontribusinya terhadap tim ini tergolong besar. Dialah yang menemani Bagus Kahfi dkk sejak masih di Timnas U-15 sampai U-19.

Terbukti, nakhoda berusia 54 tahun itu mampu membawa Timnas U-16 juara Piala AFF U-16 pada 2018. Dia juga mengantar Timnas U-19 melaju ke putaran final Piala Asia U-19 2020.

Sayang, kehadiran Shin Tae-yong sebagai manajer pelatih Timnas Indonesia yang juga bertanggung jawab terhadap Timnas U-19, dan Timnas U-23, membuat Fakhri hanya ditawari sebagai asisten pelatih.

Posisi pelatih Timnas U-19 dipercayakan kepada Gong Oh-kyun, salah satu staf pelatih yang dibawa Shin Tae-yong dari Korea Selatan.

Kondisi ini memunculkan pro dan kontra. Yang pro, menganggap keputusan PSSI tepat, dan mengarahkan Fakhri untuk membuktikan kualitasnya di level klub terlebih dahulu. Namun, Fakhri menolaknya.

“Saya tidak terprovokasi dengan comment ini (melatih klub), karena saya masih memiliki masa kerja di PT. Pupuk Kaltim, Saya tidak akan mengorbankan pekerjaan saya hanya untuk melatih klub. Jika selama ini saya melatih Timnas, itu karena mendapat izin dari perusahaan untuk melaksanakan tugas negara,” ujar Fakhri.

“Untuk pembuktian gelar, Alhamdulillah sudah ada meski di level Timnas kelompok umur,” kata mantan gelandang Timnas Indonesia pada periode 1986-1997 itu.

Meski begitu, Fakhri tak menutup kemungkinan suatu saat dirinya akan menerima tawaran melatih klub lokal atau pun luar negeri.

“Insya Allah setelah pensiun, saya akan melatih. Melatih, bagi saya adalah ibadah. Sebagai muslim, saya wajib mengamalkan ilmu yang saya miliki,” Fakhri menuturkan.  

“Apakah saya melatih tim Liga 1, 2, 3, atau tim Elite Pro Academy U-16, U-18, U-20, atau mungkin saja saya melamar ke Kemenpora untuk melatih tim sepak bola program pemerintah seperti Ragunan atau PPLP, sangat tergantung bagaimana masa depan tata kelola sepak bola kita,” ucapnya.  

Fakhri juga berharap sepak bola Indonesia bisa jauh lebih maju dari saat ini. “Jika saya tidak mampu membuat sepak bola kita menjadi lebih baik, bersih, minimal saya tidak punya andil ikut mengotorinya,” Fakhri mengakhiri komentarnya.

Editor : Abdul Haris