Krisis Chip Global Bikin Harga Smartphone Meledak, Ubah Cara Konsumen Pilih Ponsel
Menurutnya, vendor yang mampu menyesuaikan strategi dengan struktur biaya baru sekaligus mempertahankan permintaan di tingkat harga yang lebih tinggi memiliki peluang lebih besar bertahan.
Data IDC menunjukkan harga jual rata-rata smartphone global diproyeksikan naik 27,6 persen pada 2026 menjadi 581 dolar AS atau sekitar Rp10,3 juta. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibanding proyeksi sebelumnya yang berada di level 523 dolar AS.
Kenaikan biaya komponen juga membuat sejumlah produsen menahan peningkatan spesifikasi. Beberapa smartphone flagship 2026 tetap menggunakan RAM 12GB dan tidak beralih ke 16GB seperti yang sebelumnya diperkirakan.
Di segmen menengah, sejumlah vendor menyesuaikan konfigurasi RAM dan penyimpanan untuk menjaga harga tetap kompetitif. Bahkan beberapa model entry-level menggunakan memori 4GB agar tetap terjangkau.
Senior Analyst Counterpoint Research, Shenghao Bai menyebutkan penyesuaian tidak hanya terjadi pada memori. “Pada sejumlah model, kami melihat penurunan komponen seperti modul kamera,” katanya.
Dia menyebut penyesuaian juga terlihat pada layar, komponen audio, dan beberapa fitur lain. Kondisi tersebut menunjukkan produsen kini lebih fokus mencari keseimbangan antara harga dan pengalaman penggunaan.
Kondisi pasar yang berubah, konsumen perlu mengubah cara menilai smartphone. Di era krisis chip global, memilih HP tidak lagi soal siapa yang menawarkan RAM terbesar, melainkan siapa yang mampu memberikan daya tahan, dukungan software, dan nilai penggunaan terbaik dalam jangka panjang.
Editor: Dani M Dahwilani