Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : 5 Cara Menjaga Kesehatan Jantung Selain Olahraga, Perhatian Pola Makan Ini
Advertisement . Scroll to see content

Smartwatch Bisa Bantu Deteksi Dini Gangguan Irama Jantung, Begini Kata Dokter

Senin, 09 Maret 2026 - 15:16:00 WIB
Smartwatch Bisa Bantu Deteksi Dini Gangguan Irama Jantung, Begini Kata Dokter
Perangkat wearable seperti smartwatch maupun smartphone dapat dimanfaatkan sebagai alat skrining awal untuk mendeteksi fibrilasi atrium. (Foto: AI)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Perkembangan teknologi tidak hanya memudahkan aktivitas sehari-hari, tetapi juga membantu memantau kondisi kesehatan. Salah satunya melalui penggunaan smartwatch atau jam tangan pintar yang kini dapat digunakan untuk mendeteksi gangguan irama jantung atau aritmia.

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah sekaligus Kepala Staf Medis Fungsional Bidang Kardiologi Siloam Hospitals TB Simatupang, Profesor dr Yoga Yuniadi, SpJP (K) FIHA mengatakan perangkat wearable seperti smartwatch maupun smartphone dapat dimanfaatkan sebagai alat skrining awal untuk mendeteksi fibrilasi atrium. Kondisi tersebut merupakan salah satu jenis gangguan irama jantung yang paling sering terjadi.

Menurutnya, pemanfaatan teknologi tersebut sangat relevan karena sebagian besar masyarakat saat ini selalu membawa perangkat digital dalam aktivitas sehari-hari.

“Di negara-negara Barat, hampir 90 persen orang membawa handphone. Artinya sebenarnya kita punya alat yang bisa membantu mendeteksi gangguan irama jantung lebih awal,” ujar Profesor Yoga saat kampanye kesadaran aritmia Let's Check The Beat, Kamis (5/3/2026).

Dia menjelaskan beberapa smartwatch saat ini telah dilengkapi fitur pemantauan denyut jantung yang mampu membaca ketidakteraturan irama jantung. Fitur tersebut dapat menjadi sinyal awal adanya fibrilasi atrium.

Kondisi tersebut perlu dikenali sejak dini untuk mengurangi risiko stroke. Gangguan irama jantung ini dapat memicu terbentuknya gumpalan darah di jantung yang berpotensi menyumbat pembuluh darah menuju otak.

Jika penyumbatan terjadi, penderita berisiko mengalami stroke. Oleh karena itu, pemantauan irama jantung menjadi langkah penting dalam pencegahan komplikasi yang lebih serius.

Meski begitu, Profesor Yoga menegaskan hasil pemantauan dari smartwatch atau smartphone tidak bisa dijadikan diagnosis medis. Perangkat tersebut hanya berfungsi sebagai alat skrining awal untuk mendeteksi kemungkinan adanya gangguan irama jantung.

Jika perangkat wearable menunjukkan ketidakteraturan denyut jantung, langkah selanjutnya harus dilakukan pemeriksaan medis lanjutan seperti elektrokardiogram atau EKG.

“Kalau dari smartwatch atau smartphone ada dugaan fibrilasi atrium, tetap harus dilakukan EKG untuk konfirmasi. Pengobatan dan tata laksana hanya bisa diberikan setelah diagnosisnya pasti,” kata Profesor. Yoga.

Deteksi dini menjadi hal penting karena banyak kasus fibrilasi atrium tidak menimbulkan gejala yang jelas. Tidak sedikit pasien baru mengetahui kondisi tersebut setelah muncul komplikasi serius, salah satunya stroke.

Memanfaatkan teknologi yang sudah dimiliki masyarakat, kesadaran untuk memantau kesehatan jantung diharapkan semakin meningkat. Langkah ini juga dapat membantu mencegah risiko komplikasi sejak lebih awal.

Editor: Dani M Dahwilani

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut