Fakta-fakta Detoks Media Sosial, Berapa Lama Waktu Dibutuhkan?
JAKARTA, iNews.id - Detoksmedia sosial menjadi salah satu cara yang dapat dilakukan ketika seseorang mulai merasa lelah, jenuh, cemas, atau terlalu bergantung pada aktivitas di dunia maya. Lantas, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk melakukan detoks media sosial agar manfaatnya bisa dirasakan?
Dokter sekaligus influencer kesehatan, dr Adam Prabata, menyebut durasi detoks media sosial yang optimal dapat berbeda dalam setiap penelitian. Namun, sebagian penelitian menyebut jeda dari media sosial selama 1-2 minggu.
“Media sosial memang bisa memicu overstimulasi yang berujung pada kecemasan dan kelelahan mental. Durasi detoks yang optimal bervariasi antar penelitian, namun sebagian menyebutkan durasi satu sampai dua minggu,” ujar dr Adam, dikutip Selasa (11/8/2026).
Detoks media sosial tidak selalu berarti seseorang harus menghapus seluruh aplikasi yang digunakan. Jeda dapat dilakukan dengan mengurangi frekuensi membuka media sosial, mematikan notifikasi, atau menetapkan waktu tertentu tanpa menggunakan aplikasi tersebut.
Berikut fakta-fakta detoks media sosial yang perlu diketahui:
1. Durasi Tidak Selalu Sama
Tidak ada satu durasi yang bisa dianggap sebagai standar mutlak untuk semua orang. Berdasarkan penjelasan dr. Adam, durasi yang disebut dalam penelitian bervariasi, tetapi sebagian menyebut periode 1-2 minggu.
Artinya, seseorang dapat menyesuaikan proses detoks dengan kebiasaan dan kondisi masing-masing. Yang terpenting adalah memberikan jeda dari paparan media sosial secara konsisten.
2. Bisa Membantu Mengurangi Kecemasan
Bagi orang yang merasa lelah setiap membuka media sosial, detoks dapat membantu mengurangi paparan berbagai rangsangan digital. Menurut dr. Adam, detoks media sosial berpotensi menurunkan gejala depresi dan kecemasan serta memperbaiki kualitas hidup.
“Bagi kalian yang sedang merasa lelah setiap melihat media sosial, detoks media sosial bisa menurunkan gejala depresi, kecemasan, dan perbaikan kualitas hidup secara keseluruhan,” katanya.
3. Media Sosial Bisa Memicu Overstimulasi
Media sosial menghadirkan berbagai informasi, gambar, video, suara, dan notifikasi secara terus-menerus. Paparan tersebut dapat membuat seseorang menerima banyak rangsangan dalam waktu singkat.
Kondisi itu dapat berujung pada kecemasan dan kelelahan mental, terutama ketika seseorang sulit mengendalikan durasi penggunaan media sosial.
4. Membantu Mengurangi FOMO
Salah satu tujuan detoks media sosial adalah mengurangi FOMO atau fear of missing out. Kondisi ini membuat seseorang merasa khawatir tertinggal informasi, tren, atau aktivitas yang dilakukan orang lain.
“Tujuan detoks media sosial adalah mengurangi melihat notifikasi terus menerus, menurunkan kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain, dan menurunkan fomo (fear of missing out),” ucap dr. Adam.
5. Waktu Detoks Sebaiknya Diisi Aktivitas Offline
Mengurangi media sosial akan meninggalkan waktu luang yang sebelumnya digunakan untuk scrolling. Agar tidak kembali pada kebiasaan lama, waktu tersebut dapat dialihkan ke kegiatan di dunia nyata.
“Untuk manfaat yang lebih optimal, bisa dikombinasikan dengan meningkatkan aktivitas offline seperti olahraga, interaksi tatap muka, dan istirahat,” ujarnya.
Detoks media sosial pada akhirnya bukan berarti seseorang harus meninggalkan dunia digital sepenuhnya. Jeda tersebut dapat menjadi kesempatan untuk mengatur kembali kebiasaan menggunakan media sosial agar tidak mengganggu waktu istirahat, aktivitas sehari-hari, dan keseimbangan kesehatan mental.
Editor: Dani M Dahwilani