Minimalisir Distraksi saat Belajar, Migo x Bully.id Wujudkan Kesejahteraan Digital Anak Didik

Siska Permata Sari · Jumat, 26 November 2021 - 09:35:00 WIB
Minimalisir Distraksi saat Belajar, Migo x Bully.id Wujudkan Kesejahteraan Digital Anak Didik
Minimalisir Distraksi saat Belajar, Migo x Bully.id Wujudkan Kesejahteraan Digital Anak Didik (Foto: MNC Media)

JAKARTA, iNews.id - Di era pendidikan saat ini, teknologi digital telah menjadi media pembelajaran inovatif yang dapat membantu anak didik dalam mencari informasi dan meningkatkan proses belajar mandiri di masa pandemi. Kesejahteraan digital berperan penting dalam memberikan lingkungan aman dan nyaman dalam penerapan proses belajar anak. 

Namun, penggunaan internet yang berlebihan berdampak terhadap menurunnya kesejahteraan digital anak dan berpotensi menimbulkan risiko perundungan (cyberbullying), adiksi, dan kesehatan mental. 

Menurut penelitian UNICEF pada tahun 2019, sekitar 90% anak dan remaja Indonesia menghabiskan waktu 5 jam per hari pada hari biasa, untuk mengakses media sosial, game online, dan menonton tayangan streaming.

Melihat realitas tersebut, upaya memberikan edukasi lingkungan digital yang aman perlu digencarkan guna melindungi dan memastikan kesejahteraan anak, terutama dalam sekolah dan proses pembelajaran.

Bertepatan dengan Hari Anak Sedunia, Migo bersama Bully.id Indonesia menyelenggarakan webinar edukasi untuk anak dan tenaga pengajar bertema “Mewujudkan Kesejahteraan Digital di Lingkungan Sekolah”, melibatkan pembicara dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia.

“ Digital wellbeing atau kesejahteraan digital, sangat erat kaitannya dengan intensitas penggunaan internet, yang mana apabila dilakukan berlebihan dapat berdampak pada kesehatan mental dan memicu peluang terjadinya perundungan online hingga mengganggu kesehatan fisik," ungkap Agita Pasaribu, Founder dan Direktur Eksekutif Bullyid Indonesia.

Menurut survei yang dilakukan pihaknya, kebanyakan dari remaja Indonesia sering kali merasa minder dan tidak percaya diri dengan wajah dan fisik mereka ketika melihat public figure /influencers yang mereka ikuti di media sosial.

Agita menambahkan, “Rasa cemas yang muncul jika dibiarkan dapat berdampak kepada kemampuan anak dalam bersosialisasi, gangguan makan, dan depresi. Selain itu, penting sekali untuk anak memahami bagaimana cara agar mereka dapat menggunakan teknologi sebagai sarana belajar tanpa terdistraksi.”

Menurut riset yang dilakukan oleh Universitas Illinois pada tahun 2020, ketika anak tidak fokus atau mengalami distraksi saat belajar, konsentrasi akan menurun. Lebih dari itu, jika memindahkan program pembelajaran melalui media sosial akan berpotensi membuat anak menunda waktu belajar.

Maka dari itu, peran tenaga pengajar dan orang tua sangat dibutuhkan untuk menciptakan ruang belajar digital anak yang sehat dan bertanggung jawab.

Pada kesempatan webinar ini, Agita turut mengungkapkan beberapa langkah agar anak dapat menyeimbangkan aktivitas di dunia digitalnya saat belajar, seperti mengaktifkan batasan waktu ketika melihat aplikasi, mengunduh materi belajar secara offline, menyalakan mode fokus di ponsel untuk mematikan notifikasi aplikasi dalam beberapa jam. 

“Edukasi tentang kesejahteraan digital seperti ini dapat menjadi strategi preventif bagi para peserta didik dari risiko digital yang dapat menyebabkan turunnya kapasitas belajar anak," ungkap Ciput Eka Purwianti, S.Si. MA., Asisten Deputi Perlindungan Khusus Anak dari Kekerasan, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI.

"Selain itu, melihat adanya tuntutan bagi para peserta didik untuk dapat  melakukan pembelajaran mandiri di rumah melalui penggunaan teknologi. Maka dari itu, diperlukan adanya metode pembelajaran efektif yang kondusif  dan tanpa distraksi, untuk mengembangkan kinerja belajar anak," tambahnya.

Sebagai platform jaringan offline yang mendistribusikan berbagai konten digital, termasuk pendidikan, Migo menyuguhkan sebuah cara baru belajar digital tanpa distraksi iklan, yang dapat mengajak anak untuk lebih fokus belajar dan terhindar dari paparan iklan yang berdampak buruk. 

Editor : Dini Listiyani

Halaman : 1 2

Bagikan Artikel: