Ilmuwan Pecahkan Misteri Lingkaran Peri Namibia
Teori mengatakan koloni rayap menyerang dan menaklukkan satu sama lain. Tetapi ketika koloni berukuran sama bertemu, mereka tidak dapat memusnahkan satu sama lain. Akibatnya mereka menciptakan penyangga di antara mereka.
Teori lainnya mengatakan bahwa lingkaran peri adalah hasil persaingan tanaman untuk memperebutkan air yang langka dan jatuh di Namib setiap tahun.
Tanaman membantu tetangga terdekat mereka dengan menciptakan dan menjaga air di permukaan tanah. Sayangnya kondisi ini hanya menghalangi pertumbuhan lainnya dengan menumbuhkan akar yang panjang dan mengekstraksi air dari tanah.
Ada juga yang percaya bahwa lingkaran peri terhubung ke semak beracun Euphorbia yang tumbuh di Namib. Sebab beberapa sisa dari tanaman ini telah ditemukan di lingkaran peri.
Tetapi kenyataannya adalah tidak ada yang tahu pasti apakah salah satu dari teori-teori ini adalah benar.
Penelitian yang dilakukan pada lingkaran peri baru di Australia menemukan bahwa rayap tidak menyebabkan bercak tandus, tetapi rayap merupakan hasil dari proses abiotik seperti pelapukan mekanis tanah oleh hujan lebat dalam siklon, panas yang ekstrim, dan penguapan.
“Celah vegetasi yang disebabkan rayap pemanen hanya berukuran setengah lingkaran peri dan lebih sedikit lagi keteraturannya. Dan dalam kebanyakan kasus, kami bahkan tidak menemukan termitaria bawah tanah keras yang di tempat lain di Australia mencegah pertumbuhan rumput,” jelas Dr. Stephan Getzin dari Universitas Göttingen.
Teka-teki lingkaran peri masih harus dipecahkan, dan meskipun para ilmuwan telah membuat kemajuan sejak tahun 1970-an, kita mungkin tidak pernah benar-benar tahu apa tujuan dari formasi ini.
Editor: Dini Listiyani