Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Keren! Siswa SD Asal Boyolali Raih Penghargaan NASA usai Temukan Celah Keamanan Sistem
Advertisement . Scroll to see content

Miris! NASA Rilis Foto Indonesia dari Satelit, Kabut Asap Karhutla Selimuti Semua Wilayah

Jumat, 04 September 2026 - 10:42:00 WIB
Miris! NASA Rilis Foto Indonesia dari Satelit, Kabut Asap Karhutla Selimuti Semua Wilayah
Foto satelit Indonesia yang dirilis NASA. (Foto: NASA)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id — Indonesia kembali menghadapi ancaman serius kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tengah musim kemarau. Citra satelitNASA yang diambil pada 1 September 2026 memperlihatkan aktivitas kebakaran yang meluas di sejumlah wilayah Indonesia, ketika kondisi kering dan fenomena El Niño memperbesar risiko munculnya kebakaran.

Citra tersebut ditangkap instrumen MODIS (Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer) yang terpasang pada satelit Aqua milik NASA. Dalam peta yang menyertai citra, titik-titik merah menunjukkan lokasi yang terdeteksi memiliki anomali panas yang mengindikasikan adanya kebakaran.

Namun, banyaknya titik merah bukan berarti setiap titik merupakan satu kebakaran. NASA menjelaskan, satu kebakaran dapat menghasilkan beberapa deteksi karena sistem bekerja berdasarkan piksel dan anomali termal yang teridentifikasi oleh sensor.

Yang membuat situasi semakin mengkhawatirkan adalah karakter kebakaran di lahan gambut Indonesia.

Kebakaran gambut dapat menjadi salah satu jenis kebakaran paling sulit dikendalikan. Api tidak hanya membakar vegetasi di permukaan, tetapi dapat terus membara di bawah tanah melalui lapisan gambut yang mengering.

Kondisi tersebut membuat api seolah tidak terlihat, tetapi tetap menyala dan dapat kembali muncul ke permukaan.

Lebih parah lagi, kebakaran gambut menghasilkan polusi dalam jumlah besar. Berdasarkan salah satu estimasi yang dikutip NASA, kebakaran gambut tropis dapat menghasilkan partikel halus hingga tiga kali lebih banyak dibandingkan kebakaran hutan tropis lainnya.

Emisi sulfur dioksida bahkan diperkirakan mencapai lima kali lebih banyak, sementara karbon organik dapat mencapai tiga kali lipat. Kebakaran gambut juga menghasilkan sekitar dua kali lebih banyak metana dan karbon monoksida dibandingkan kebakaran hutan tropis lainnya.

Kebakaran 2026 Mulai Mirip 2015

Indonesia memang bukan pertama kali menghadapi persoalan karhutla. Namun, situasi pada 2026 menjadi perhatian karena terjadi bersamaan dengan kondisi iklim yang sangat kering.

Peneliti Columbia University Robert Field mengatakan aktivitas kebakaran Indonesia pada awal musim kebakaran tahun ini menunjukkan peningkatan tajam dan mulai menyerupai pola yang terjadi pada 2015.

"Indonesia baru sekitar tiga minggu memasuki musim kebakaran, tetapi kami melihat aktivitas kebakaran meningkat tajam, mirip dengan 2015," kata Field, dikutip dari laman resmi NASA, Jumat (4/9/2026).

Menurut dia, fenomena El Niño yang kuat membuat musim kemarau semakin kering di wilayah Indonesia yang memang rawan kebakaran. Kondisi tersebut diperparah oleh fase positif Indian Ocean Dipole (IOD) yang juga sedang berlangsung.

Sebagai gambaran, kebakaran besar pada 2015 berlangsung selama lebih dari tiga bulan dan menghasilkan sekitar 1,75 miliar ton setara gas rumah kaca.

Sementara itu, hingga 2 September 2026, kebakaran Indonesia yang telah berlangsung sekitar satu bulan diperkirakan telah menghasilkan emisi sekitar 10 persen dari jumlah yang dilepaskan dalam kebakaran 2015.

Angka tersebut menunjukkan betapa cepat emisi dapat terakumulasi ketika musim kebakaran berlangsung dalam kondisi sangat kering.

90 Persen Wilayah Indonesia Minim Hujan

Kondisi cuaca turut menjadi faktor penting di balik meningkatnya ancaman karhutla.

NASA menyebut sekitar 90 persen wilayah Indonesia mengalami sedikit atau bahkan tidak mendapat hujan pada awal Agustus 2026, berdasarkan data badan meteorologi Indonesia.

Dalam kondisi normal, kawasan gambut di Kalimantan, Sumatra, dan Papua relatif terlalu basah untuk memungkinkan api menjalar jauh ke lapisan gambut bawah tanah.

Namun, ketika kekeringan berlangsung, situasinya berubah drastis.

"Api di permukaan sebenarnya tidak terlalu mengkhawatirkan, tetapi ketika api masuk ke bawah tanah, api itu tidak akan berhenti," ujar Field.

Api bawah tanah dapat terus membara hingga hujan besar kembali membasahi kawasan tersebut. Field memperkirakan api semacam itu dapat bertahan hingga musim hujan datang pada Oktober atau November.

Ironis, Asap Tebal Justru Bisa Bikin Api Tak Terlihat Satelit

Ada satu fakta mengejutkan dari kebakaran Indonesia 2026. Banyaknya titik api yang terdeteksi satelit ternyata tidak selalu menggambarkan kondisi sebenarnya di lapangan.

NASA menjelaskan, sensor MODIS dan VIIRS memang digunakan untuk memantau kebakaran secara hampir real-time. Pemerintah Indonesia juga memanfaatkan pengamatan tersebut dalam sistem pemantauan kebakaran.

Bahkan, platform pemantauan berbasis MODIS dan VIIRS milik Kementerian Kehutanan, SiPongi, mencatat 946 hotspot pada 31 Agustus 2026.

Tetapi ketika kebakaran semakin parah, jumlah titik api yang terdeteksi satelit justru bisa menurun.

Penyebabnya adalah asap dan awan tebal yang dapat menghalangi sensor satelit. Kebakaran yang berada di bawah tajuk hutan juga lebih sulit terlihat. Begitu pula dengan api yang membara di bawah permukaan gambut.

"Peristiwa asap terburuk, secara paradoks, bisa menjadi yang paling sulit diamati dari luar angkasa dengan MODIS dan VIIRS," kata Mark Cochrane, ekolog dari University of Maryland Center for Environmental Science yang telah melakukan penelitian lapangan mengenai kebakaran gambut di Indonesia selama hampir satu dekade.

Artinya, berkurangnya titik api dalam data satelit tidak otomatis berarti kebakaran telah mereda.

Asap Mulai Ganggu Aktivitas Warga

Dampak kebakaran tidak berhenti pada persoalan lingkungan dan emisi karbon. Asap dari karhutla telah menimbulkan gangguan terhadap aktivitas masyarakat di Indonesia dan negara-negara tetangga.

Sejumlah pejabat Indonesia memperingatkan bahwa masyarakat di wilayah yang terdampak telah terpapar asap berbahaya. Beberapa sekolah mulai mengalihkan pembelajaran secara daring, sementara sejumlah taman nasional ditutup.

Gangguan juga terjadi pada sektor transportasi udara. Beberapa penerbangan dilaporkan mengalami keterlambatan akibat kondisi asap yang cukup pekat.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa karhutla bukan hanya persoalan titik api di peta satelit. Ketika kebakaran gambut semakin meluas, dampaknya dapat merembet menjadi persoalan kesehatan masyarakat, pendidikan, transportasi hingga kualitas udara.

Dengan musim kemarau yang masih berlangsung dan pengaruh El Niño yang kuat, perkembangan kebakaran Indonesia dalam beberapa pekan ke depan akan menjadi perhatian serius.

"Orang cenderung fokus pada kebakaran ini selama El Niño, kemudian melupakannya. Kita membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, bahkan pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak terlalu parah, untuk menyelesaikan masalah ini," kata Cochrane.

Menurut dia, kebakaran tersebut menghasilkan emisi dalam jumlah yang sangat besar.

Editor: Muhammad Sukardi

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut