Tak Cukup Nilai Bagus, Pelajar Kini Dituntut Punya Skill Diplomasi
Dalam kesempatan tersebut, Fuad juga membagikan pengalamannya saat mulai menjadi aparatur sipil negara (ASN) di usia 18 tahun. Pengalaman itu, menurutnya, menjadi bukti bahwa kesempatan bisa datang lebih awal bagi siapa saja yang mau terus mengembangkan kemampuan.
"Tingkatkan kepercayaan diri dan terus asah skill serta pengetahuan. Bekal itu akan menjadi modal penting bagi anak-anak muda untuk menghadapi tantangan di masa depan," ujar Fuad.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para pelajar yang berani keluar dari zona nyaman dengan mengikuti forum yang menuntut kemampuan berpikir kritis, komunikasi, dan kepemimpinan.
Pengamat pendidikan menilai tren meningkatnya minat terhadap kegiatan seperti Model United Nations menunjukkan adanya perubahan cara belajar generasi muda.
Jika sebelumnya keberhasilan sering diukur dari nilai akademik semata, kini semakin banyak pelajar yang mulai membekali diri dengan kemampuan berbicara di depan publik, memimpin diskusi, menyelesaikan konflik, hingga membangun jejaring internasional.
Di era globalisasi, kemampuan tersebut dinilai menjadi nilai tambah yang dapat membuka peluang lebih luas, baik untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri maupun memasuki dunia kerja yang semakin kompetitif.
Nilai rapor memang tetap penting, namun kemampuan berdiplomasi, berkolaborasi, dan berpikir kritis kini menjadi bekal yang semakin dibutuhkan untuk menghadapi masa depan.
Editor: Muhammad Sukardi