Tak Terurai Ratusan Tahun, Ilmuwan Ungkap Keunggulan Plastik

Dani M Dahwilani ยท Selasa, 13 Agustus 2019 - 21:11 WIB
Tak Terurai Ratusan Tahun, Ilmuwan Ungkap Keunggulan Plastik

Senyawa padat yang terkandung dalam plastik hanya dapat terurai dalam jangka waktu ratusan tahun. (Foto: Dok/DA)

JAKARTA, iNews.id - Isu sampah plastik menjadi perhatian di setiap negara. Senyawa padat yang terkandung dalam plastik hanya dapat terurai dalam jangka waktu ratusan tahun.

Namun, di Norwegia sampah plastik justru menjadi bahan ekonomis. Dikutip dari The Guardian, Norwegia mengklaim mampu mendaur ulang lebih dari 97 persen botol plastik dan 92 persen plastik bekas, dapat diubah kembali menjadi botol minuman baru. Bahkan, botol plastik PET bekas di Norwegia bisa didaur ulang hingga lebih dari 50 kali.

Pakar teknologi polimer dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Profesor Akhmad Zainal Abidin menjelaskan, termoplastik awalnya berbentuk virgin (pelet plastik terbuat dari minyak bumi) dalam kondisi yang paling bagus. Setelah dipakai dan dibentuk menjadi botol plastik kemudian dapat didaur ulang untuk seterusnya.

"Prosesnya tergantung dari proses pemanasannya apakah terjadi kerusakan atau tidak dalam prosesnya. Bisa juga nanti menjadi grade A, B dan seterusnya yang makin menurun tapi masih tetap ada gunanya hingga terakhir bisa dirocovery diambil energinya," ujar Akhmad dalam keterangan persnya kepada iNews.id, Selasa (13/8/2019)

Menurut Akhmad, plastik bekas bisa juga dijadikan kembali menjadi monomer (bahan baku plastik) atau menjadikan plastik hasil daur ulang tadi menjadi bahan kimia lainnya. “Akhir riwayat plastik bisa bermanfaat tanpa harus mengotori lingkungan," katanya.

Doktor lulusan UMIST and The Victoria University of Manchester itu mengajak masyarakat memilah sampah di sumbernya secara langsung karena jika diolah dengan baik terutama sampah yang belum tercampur bisa di daur ulang berkali-kali. Namun, jika telah tercampur dengan sampah lainnya, proses memilahnya akan menjadi lebih mahal bahkan akhirnya bisa terbuang.

Akhmad mengakui daur ulang di Indonesia lebih baik dari Amerika. Di mana hasil sampah plastik dijadikan kembali produk dan digunakan lagi.

"Perlu pendekatan modern untuk membenahi manajemen sampah agar bisa didaur ulang supaya bisa memberi manfaat kepada semuanya mulai dari pemulung, pendaur ulang dan juga akan menghidupkan ekonomi dengan banyak menyerap tenaga kerja tak hanya ribuan bahkan jutaan," ujarnya.

Sebagai ilmuwan dia menyarankan perlu regulasi untuk mengatur sampah plastik jadi satu, kemudian sampah yang mudah membusuk dikelompokkan sendiri, serta sampah logam, kertas dan kaca juga dijadikan satu. Sampah-sampah lain yang tidak bisa diambil manfaatnya kecuali dibakar juga dipilah.

"Ya kalau semua sudah berjalan tidak perlu lagi TPS (tempat pembuangan sampah) atau ke TPA (tempat pembuangan akhir). Saya sudah membuktikan sendiri dengan Management Sampah Zero (Masaro), yang menghasilkan nilai ekonomi dan mendatangkan keuntungan bagi yang melakukannya," ujarnya.


Editor : Dani Dahwilani