Terungkap! Ternyata Ini yang Terjadi pada Tubuh Ketika Kamu Tidur
JAKARTA, iNews.id - Apa yang sebenarnya terjadi pada tubuh ketika seseorang tertidur? Meski terlihat seperti sedang berhenti beraktivitas, tubuh justru menjalankan berbagai proses penting selama tidur.
Detak jantung berubah, pernapasan melambat, suhu tubuh menurun, hormon bekerja, sementara otak tetap aktif mengolah informasi dan memperkuat memori.
Tidur merupakan proses biologis kompleks yang berlangsung dalam beberapa tahap. Sepanjang malam, tubuh akan berulang kali melewati fase non-rapid eye movement (NREM) dan rapid eye movement (REM). Masing-masing fase memiliki fungsi berbeda bagi otak dan tubuh.
Dokter Spesialis Neurologi Seraphim Medical Center dr. Oktaviana Niken P., Sp.N., DAIFIDN., MMRS., FNR., AIFO-K., menjelaskan bahwa tidur memiliki fungsi yang jauh lebih penting daripada sekadar menghilangkan rasa kantuk.
"Tidur bukan sekadar waktu istirahat, melainkan proses penting bagi otak untuk memperbaiki sel saraf dan memperkuat memori," ujar dr. Oktaviana dalam keterangannya, Kamis (1/10/2026).
Lantas, apa yang terjadi pada tubuh ketika seseorang tidur? Simak ulasan sains terkait pertanyaan itu hanya di artikel ini.
1. Tubuh mulai menurunkan aktivitas
Ketika seseorang mulai tertidur, tubuh memasuki tahap pertama tidur NREM. Ini merupakan fase peralihan dari kondisi terjaga menuju tidur.
Otot mulai rileks, detak jantung dan pernapasan perlahan melambat. Aktivitas otak juga mulai berubah dibandingkan ketika seseorang masih terjaga.
Memasuki tahap NREM berikutnya, tubuh semakin rileks dan suhu tubuh mulai menurun. Siklus tersebut kemudian berlanjut ke tahap tidur yang lebih dalam.
Dalam satu malam, seseorang dapat melewati beberapa siklus tidur. Setiap siklus umumnya berlangsung sekitar 80-100 menit dan terdiri dari beberapa tahap NREM serta REM.
2. Tubuh memasuki fase tidur dalam
Setelah melewati tidur ringan, tubuh masuk ke NREM tahap 3 atau tidur dalam (deep sleep).
Pada fase ini, detak jantung dan pernapasan berada pada tingkat paling rendah selama tidur. Otot semakin rileks dan tubuh menjalankan berbagai proses pemulihan.
Fase tidur dalam juga berkaitan dengan pemulihan energi, perbaikan jaringan dan pelepasan hormon tertentu yang dibutuhkan tubuh.
Karena itu, seseorang yang tidur cukup tetapi kualitas tidurnya buruk belum tentu mendapatkan manfaat pemulihan secara optimal.
3. Otak tetap bekerja meski tubuh terlelap
Salah satu hal menarik dari tidur adalah otak tidak benar-benar berhenti bekerja.
Aktivitas otak berubah sesuai dengan tahapan tidur. Pada waktu tertentu, otak justru menjalankan proses yang berkaitan dengan pembelajaran dan memori.
Menurut dr. Oktaviana, proses tersebut menjadi salah satu alasan mengapa tidur memiliki peranan penting bagi fungsi otak.
Saat seseorang tidur setelah mempelajari sesuatu, informasi yang baru diterima dapat diproses dan diperkuat menjadi memori. Inilah sebabnya kurang tidur dapat membuat seseorang lebih sulit berkonsentrasi, belajar maupun mengingat informasi.
4. Suhu tubuh ikut turun
Ketika tubuh memasuki tidur, suhu tubuh secara alami mengalami penurunan. Perubahan tersebut merupakan bagian dari ritme sirkadian atau jam biologis tubuh.
Kondisi lingkungan yang gelap juga memberi sinyal kepada tubuh untuk meningkatkan produksi melatonin, hormon yang membantu mengatur siklus tidur dan bangun.
Sebaliknya, paparan cahaya pada waktu yang tidak tepat, termasuk cahaya dari perangkat elektronik, dapat mengganggu ritme tersebut pada sebagian orang.
5. Hormon dan proses pemulihan berlangsung
Tubuh juga memanfaatkan waktu tidur untuk menjalankan berbagai proses pemulihan.
Salah satunya melalui pelepasan hormon pertumbuhan yang berperan dalam pertumbuhan, pemeliharaan jaringan dan proses perbaikan tubuh.
Itulah sebabnya tidur menjadi bagian penting dari proses pemulihan fisik. Tubuh tidak hanya membutuhkan makanan dan aktivitas fisik, tetapi juga waktu istirahat yang cukup untuk mempertahankan fungsi normalnya.
6. Jantung dan pernapasan mengalami perubahan
Pada fase NREM, detak jantung dan pernapasan umumnya melambat. Tekanan darah juga cenderung turun dibandingkan ketika seseorang sedang terjaga.
Namun, pola tersebut berubah ketika tubuh memasuki fase REM.
Pada fase REM, aktivitas otak meningkat, sementara detak jantung dan pernapasan dapat menjadi lebih cepat serta tidak teratur. Kondisi ini merupakan bagian normal dari siklus tidur.
7. Mata bergerak cepat dan mimpi dapat muncul
Fase REM menjadi salah satu bagian tidur yang paling mudah dikenali.
Pada tahap ini, mata bergerak cepat di balik kelopak mata, aktivitas otak meningkat dan sebagian besar otot tubuh berada dalam kondisi sangat rileks.
Mimpi dapat terjadi pada fase NREM maupun REM. Namun, mimpi yang lebih jelas dan terasa hidup lebih sering dikaitkan dengan fase REM.
Fase ini juga berperan dalam sejumlah proses yang berkaitan dengan pembelajaran, memori dan pengaturan suasana hati.
8. Tidur membantu menjaga fungsi otak
Proses yang berlangsung selama tidur menunjukkan bahwa tubuh tidak benar-benar 'mati gaya' ketika seseorang terlelap.
Sebaliknya, otak dan tubuh bekerja melalui mekanisme yang terkoordinasi untuk menjaga berbagai fungsi biologis.
Karena itu, gangguan tidur yang berlangsung terus-menerus tidak sebaiknya dianggap sekadar persoalan mengantuk pada siang hari.
"Deteksi dini melalui pemeriksaan seperti qEEG sangat membantu menentukan penanganan yang tepat," ujar dr. Oktaviana.
Pemeriksaan quantitative electroencephalography (qEEG) atau brain mapping dapat digunakan untuk memetakan aktivitas gelombang otak. Pemeriksaan tersebut menjadi salah satu pendekatan yang digunakan untuk melihat pola aktivitas otak yang berkaitan dengan kondisi seperti gangguan tidur dan stres.
Pada akhirnya, tidur bukan sekadar jeda dari aktivitas harian. Ketika tubuh terlelap, berbagai sistem justru memasuki kondisi yang mendukung pemulihan, sementara otak memproses informasi dan membantu memperkuat memori.
Itulah mengapa kebiasaan memangkas waktu tidur demi pekerjaan, hiburan atau penggunaan gadget tidak sebaiknya menjadi rutinitas.
Tidur yang cukup dan berkualitas memberi kesempatan bagi tubuh dan otak untuk menjalankan proses biologisnya secara optimal. Sebaliknya, jika gangguan tidur terjadi berulang dan mulai disertai keluhan seperti sulit berkonsentrasi, mudah lupa atau kelelahan berkepanjangan, kondisi tersebut layak mendapat perhatian lebih lanjut.
Editor: Muhammad Sukardi