Borobudur Jadi Destinasi Percontohan di Tengah Pandemi

Vien Dimyati · Jumat, 02 Oktober 2020 - 16:39:00 WIB
Borobudur Jadi Destinasi Percontohan di Tengah Pandemi
Borobudur telah menerapkan protokol kesehatan dengan ketat (Foto: Kemenparekraf)

JAKARTA, iNews.id - Travelling di tengah masa pandemi Covid-19, memang agak menakutkan. Tetapi, jika dijalani dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat, Anda tetap bisa berwisata dengan aman, nyaman dan terbebas dari Covid-19.

Salah satu destinasi wisata yang bisa menjadi percontohan di tengah pandemi adalah Borobudur. Objek wisata ini dinyatakan siap menerima pengunjung.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan, Borobudur merupakan destinasi percontohan. Destinasi lain bisa mengikuti Borobudur.

Menurut Ganjar, pembukaan objek wisata di Jawa Tengah pertama kali dilakukan uji coba di Borobudur. Wisatawan sebelum memasuki area Borobudur wajib mencuci tangan dan harus dipandu oleh tour guide.

"Uji coba pertama kali di Borobudur. Wisatawan wajib cuci tangan saat masuk area. Dipandu tour guide, dan pengunjung dibatasi maksimal 5.000 per hari. Itu juga hanya sampai pelataran. Tidak sampai atas. Karena kalau batu candi disemprot disinfektan setiap hari akan mengganggu batu-batu tersebut," kata Ganjar Pranowo saat menerima kunjungan Forum Wartawan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif di Kantor Gubernur, Selasa (29/10/2020).

Menurut Ganjar, uji coba wisata di Jawa Tengah dilakukan oleh PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan & Ratu Boko (Persero) selaku pengelola kawasan sudah melakukan simulasi penerapan protokol kesehatan sejak 1 Juli 2020.

Wisatawan yang akan berkunjung diatur mulai dari tempat kedatangan hingga pintu keluar Kawasan Candi Borobudur dan Ratu Boko. Papan-papan informasi tentang tata cara pencegahan Covid-19 juga terpasang di berbagai sudut kawasan mulai dari penggunaan masker, cuci tangan, melakukan social distancing maupun physical distancing.

Saat masuk kawasan, wisatawan akan dicek suhu tubuhnya. Bagi wisatawan dengan suhu di bawah 37,5 diberi stiker warna hijau, kemudian pengunjung dengan suhu di atas 37,5 sampai 37,8 diberi stiker warna kuning. Untuk pengunjung dengan suhu di atas 37,8 akan diberi stiker warna merah.

Sebelum sampai lokasi pembelian tiket, wisatawan dianjurkan untuk cuci tangan dan melewati disinfection chamber yang aman bagi pengunjung. Pembelian tiket dianjurkan untuk menggunakan metode nontunai, namun pengelola juga masih melayani bagi wisatawan yang akan membeli tiket dengan cara tunai. Calon pengunjung juga bisa membeli tiket secara online melalui situs ticket.borobudurpark.com.

"Jika nanti destinasi lain mau buka tempat wisatanya, harus diverifikasi dulu. Jadi ada buka tutup destinasi. Ini bagian dari cara kita mengontrol. Kalau ditutup ini akan ada problem ekonomi dan sosial. Contoh Borobudur, awalnya pengunjung 1.500. Kemudian minta ditambah menjadi 3.000," katanya.

Ganjar menjelaskan, ke depan, tempat wisata, warung, restoran, transportasi akan ditata lebih baik lagi. Tujuannya untuk mencegah penularan Covid-19.

"Nanti akan dicek di beberapa destinasi apakah sudah ditata. Misalnya di lawang sewu, kota lama apa sudah ditata. Yang penting kita sudah mendorong mereka menyiapkan protokol kesehatan dan membatasi jumlah kunjungan jika ingin buka," katanya.

Sementara itu, Direktur Pemasaran Pariwisata Regional I Vinsensius Jemadu menyambut baik langkah evaluasi berkala yang dilakukan Pemprov Jateng. Menurutnya, pembukaan tempat wisata tak bisa mengabaikan protokol kesehatan.

“Pembukaan wisata di Jateng melalui suatu kajian antisipatif. Kalau terjadi sesuatu buka tutup, merupakan strategi menekan Covid dan (memberikan) efek jera kepada pengusaha (yang tidak menaati protokol kesehatan)," katanya.

Menurut Vinsensius, untuk memulihkan sektor pariwisata, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) fokus pada wisatawan nusantara. Bahkan, Kemenparekraf mencanangkan kampanye pariwisata dengan tema Indonesia Care. Tujuannya untuk mendorong masyarakat dan pelaku pariwisata untuk mulai menerapkan protokol kesehatan dengan prinsip Cleanliness, Health, Safety and Environmental Sustainability (CHSE).

"Di Indonesia harus mematuhi imbauan pemerintah tentang kampanye gerakan 3 M, yaitu memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak," kata Vinsensius.

Editor : Vien Dimyati