Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Indahnya Masjid Tjia Kaang Hoo dengan Arsitektur Tionghoa dan Betawi yang Megah!
Advertisement . Scroll to see content

Kisah Miliarder Asif Aziz, Ditolak Sholat di Hotel Tempat Tersebut Dibelinya Dijadikan Masjid

Senin, 09 Maret 2026 - 13:58:00 WIB
Kisah Miliarder Asif Aziz, Ditolak Sholat di Hotel Tempat Tersebut Dibelinya Dijadikan Masjid
Kisah Miliarder properti Asif Aziz mengubah hotel menjadi masjid di pusat Kota London, Inggris, setelah ditolak sholat. (Foto: Instagram)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Miliarder properti Asif Aziz mengubah pengalaman pahit menjadi visi besar bagi komunitas muslim di pusat kota London, Inggris. Kisah ini bermula dari sebuah penolakan sholat mengubah kawasan hiburan menjadi tempat ibadah di salah satu kawasan hiburan paling terkenal di dunia.

Asif Aziz, pengusaha properti asal Malawi yang memimpin perusahaan Criterion Capital, pernah mengalami momen yang mengubah pandangannya. Saat berada di sebuah hotel mewah di London dan waktu salat tiba, dia meminta izin menggunakan ruangan kecil untuk beribadah.

Namun permintaan tersebut ditolak oleh pihak hotel. Pengalaman itu membuat Aziz menyadari sesuatu yang penting tentang kehidupan Muslim di pusat kota London.

Di tengah gemerlap kawasan West End yang dipenuhi teater, restoran, dan tempat hiburan, ternyata banyak pekerja Muslim serta wisatawan tidak memiliki tempat yang layak untuk menjalankan ibadah. Banyak dari mereka terpaksa salat di ruang sempit, lorong, bahkan ruang bawah tanah.

Dia kemudian mengambil langkah besar dengan mengakuisisi London Trocadero, sebuah kompleks hiburan legendaris yang berada di antara Piccadilly Circus dan Leicester Square. Gedung tersebut selama puluhan tahun dikenal sebagai pusat permainan video, bioskop, dan berbagai hiburan populer di London.

Aziz melihat potensi lain dari bangunan ikonik tersebut. Melalui visi barunya, sebagian area Trocadero direncanakan menjadi ruang ibadah bagi komunitas Muslim yang bekerja atau berkunjung ke kawasan tersebut.

Rencana awalnya adalah membangun masjid dengan kapasitas sekitar 1.000 jamaah. Namun proyek tersebut sempat menuai protes dari sejumlah kelompok sayap kanan serta memicu kekhawatiran sebagian masyarakat.

Kontroversi itu membuat proses pembangunan tidak berjalan mudah. Meski begitu, Aziz tidak menghentikan langkahnya.

Melalui lembaga filantropinya, Aziz Foundation, dia melakukan pendekatan yang lebih inklusif kepada masyarakat dan pemerintah setempat. Salah satu langkah yang dilakukan adalah merevisi rencana pembangunan.

Kapasitas masjid akhirnya dikurangi menjadi sekitar 390 jamaah. Penyesuaian ini dilakukan untuk meredakan kekhawatiran publik sekaligus memastikan fasilitas tersebut lebih fokus melayani kebutuhan komunitas lokal.

Aziz juga menekankan bahwa ruang ibadah tersebut bukan hanya untuk wisatawan, tetapi terutama bagi pekerja sektor jasa di kawasan West End yang selama ini kesulitan menemukan tempat salat yang layak.

Setelah melalui proses diskusi dan pertimbangan panjang, Dewan Westminster akhirnya memberikan izin resmi pada tahun 2023.

Sejak saat itu, bagian dari gedung Trocadero mulai bertransformasi menjadi ruang ibadah yang dikenal dengan nama Piccadilly Prayer Space.

Masjid tiga lantai ini kini berdiri di tengah kawasan yang selama ini identik dengan hiburan, teater, dan kehidupan malam London. Kehadirannya menjadi simbol keberagaman dan toleransi di salah satu distrik tersibuk di dunia.

Bagi banyak orang, West End dikenal sebagai pusat hiburan kelas dunia. Namun bagi ribuan pekerja yang menghabiskan waktu mereka di kawasan tersebut, tempat itu juga merupakan ruang hidup sehari-hari.

Aziz melihat kebutuhan spiritual mereka sebagai sesuatu yang penting untuk dipenuhi. Dengan menghadirkan Piccadilly Prayer Space, dia berharap tidak ada lagi Muslim yang merasa kesulitan menjalankan ibadah di tengah aktivitas kota yang padat.

Langkah Aziz juga memperlihatkan bagaimana kekuatan finansial dapat dimanfaatkan untuk tujuan sosial yang lebih luas. Proyek tersebut tidak hanya menciptakan ruang ibadah, tetapi juga membuka ruang dialog mengenai keberagaman dan inklusivitas di London.

Kini Trocadero tidak lagi hanya dikenal sebagai ikon hiburan atau pusat budaya pop. Sebagian bangunannya telah berubah menjadi tempat yang memberikan ketenangan spiritual bagi banyak orang.

Editor: Dani M Dahwilani

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut