Mengintip Kemegahan Terowongan Niyama Tulungagung yang Kini Terabaikan dan Tak Terawat
Sayang pembangunan terowongan yang dinamakan Terowongan Tulungagung Selatan ini menjadi akhir dari riwayat pemanfaatan Terowongan Niyama yang dibuat Jepang. Lambat laun pun terowongan ‘asli’ ini pun kian tertutup pendangkalan dan akhirnya ditutup.
“Terowongan Niyama-nya yang asli tidak rusak, masih utuh, hanya memang ditutup dan tidak lagi diurus,” kata pengajar Dosen Sejarah UIN R.M. Said Surakarta ini.
Sementara, tiga terowongan baru yang dibuat pemerintah orde baru kali ini dijadikan salah satu titik pengairan utama di Tulungagung. Selain itu terowongan ini juga digunakan sebagai sarana Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Niyama. Dari sanalah terowongan yang awalnya sempat dibuka untuk berwisata kini tak boleh lagi diakses masuk.
Hal ini yang disebut Latif menjadi titik lemah dari pemerintah daerah Tulungagung, di mana bangunan - bangunan yang bersejarah kurang begitu diperhatikan. Hal ini diperparah dengan tidak adanya penyematan identitas plakat-plakat kepada bangunan cagar budaya dan bersejarah yang ada di Kabupaten Tulungagung.
“Harusnya pemerintah lokal bisa menguri-nguri sejarah. Keberadaannya seharusnya penting bagi Pemda Tulungagung dan harus bisa dilestarikan. Tapi sejauh ini bangunan-bangunan cagar budaya tidak ada plakat yang mengindetikkan bangunan cagar budaya. Itu di kota saja belum, apalagi kalau di luar kotanya,” tuturnya.
Editor: Vien Dimyati