Mengintip Keunikan Cahaya Gua Batu Cermin di Labuan Bajo
"Panjang gua kurang lebih 15-20 meter, tapi ada beberapa titik di mana kita harus berjalan merunduk karena posisi stalaktit dan stalagmit cukup rendah. Nanti di dalam ada ruangan besar yang tidak ada cahaya, tapi di bagian yang disebut ‘cermin’ ada cahaya,” kata Mario.
Begitu masuk, pengunjung harus berjalan perlahan dan merunduk. Udara dalam gua cukup lembap meski cuaca cerah karena masih ada beberapa genangan air.
Tak lama kemudian, para pengunjung tiba di ruang tengah yang bisa dipenuhi oleh sekitar 15 orang. Mario mengarahkan cahaya senter ke langit gua, dia menyoroti fosil penyu dengan posisi terbalik. Ada segenggam bongkahan yang hilang pada tempurung fosil, yang ternyata sengaja diambil oleh Verhoven untuk diteliti. Dia kemudian menyimpulkan bahwa 'batuan' tersebut memang fosil penyu yang sudah tercampur dengan berbagai jenis mineral lainnya.
Mario bertanya apakah ada di antara pengunjung yang mendengar suara gema yang biasanya muncul di dalam gua. “Oh iya, kok enggak ada suara gema ya?” ucap spontan salah satu pengunjung bertanya balik.
Mario lalu menyoroti sederet bongkahan batu berkilauan yang memiliki 'pori-pori'. Menurut Verhoven, suara di gua ini tidak bergema lantaran bentuk batu yang berpori-pori dapat meredam suara. “Gua ini tidak bagus untuk memantulkan suara, tapi bagus untuk memantulkan cahaya,” kata Mario.