Pelestarian Budaya Nusantara lewat Peran Perempuan

Vien Dimyati ยท Sabtu, 15 Agustus 2020 - 19:38 WIB
Pelestarian Budaya Nusantara lewat Peran Perempuan

Pelestarian budaya lewat perempuan (Foto : Ist)

JAKARTA, iNews.id - Budaya Nusantara yang ada di Indonesia menjadi kekayaan yang tak ternilai. Keberagaman masyarakat dari segi suku, bahasa, hingga agama membuat Indonesia teridentifikasi sebagai negeri yang kaya akan budaya.

Kekayaan ini tentu perlu dijaga sehingga dapat dilestarikan untuk generasi mendatang. Ada banyak cara melestarikan budaya Nusantara di Indonesia.

Salah satunya melalui PT Bank Central Asia Tbk (BCA) bersama Nusantara Institute dan Nusantara Kita Foundation berkomitmen mendukung berbagai kegiatan pelestarian budaya.

Bahkan mendorong masyarakat memiliki apresiasi dan penghormatan terhadap aspek-aspek kebudayaan lokal di Indonesia.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui gelaran Dialog Budaya Nusantara serta memberikan penghargaan kepada para pemerhati, pelestari dan pejuang budaya dari berbagai kalangan masyarakat. Mereka turut merawat kebudayaan lokal di Indonesia, baik melalui tulisan maupun aktivitas lainnya.

Tahun 2020 ini, Dialog Budaya Nusantara mengangkat tema “Perempuan dan Budaya Nusantara”. Dialog dilakukan secara virtual.

Sumanto Al Qurtuby selaku Dosen Antropologi Budaya di King Fahd University of Petroleum & Mineral dan Senior Scholar di National University of Singapore, mengatakan, kata “kebudayaan” (kultur atau “culture”) tentu memiliki makna dan cakupan yang sangat luas.

"Perempuan menjadi salah satu agen budaya yang memiliki peran sentral dan berkontribusi besar dalam menciptakan sekaligus mempertahankan dan melestarikan produk-produk kebudayaan di masyarakat," kata Sumanto Al Qurtuby, melalui keterangannya, dalam webinar Dialog Budaya Nusantara, beberapa waktu lalu, di Jakarta.

Direktur BCA Lianawaty Suwono, mengatakan, setiap dari kita adalah agen budaya, tidak terkecuali para perempuan Indonesia. Agen budaya berperan dalam menciptakan, mempertahankan dan melestarikan kebudayaan di masyarakat.

"Kami percaya medium untuk melestarikan budaya juga variatif, mulai dari tingkat yang paling sederhana yaitu ibu kepada anaknya, pendidikan di sekolah, hingga institusi-institusi tinggi pengambil kebijakan politik, ekonomi, dan lainnya," kata Lianawaty.

Sayangnya, lanjut dia, beberapa jalur kebudayaan ini masih didominasi oleh laki-laki dan cenderung mengesampingkan peran perempuan. Melalui kegiatan ini kesetaraan gender di Indonesia mendapat perhatian lebih dari kita,” kata Lianawaty Suwono.

Sementara itu, menurut United Nations Development Programme (UNDP) melalui laporannya bertajuk Human Development Report 2018, Indeks Ketimpangan Gender (Gender Inequality Index/GII) di Indonesia termasuk yang tertinggi di ASEAN.

Indonesia tercatat di peringkat keempat setelah Kamboja, Laos, dan Myanmar. Angka ini menunjukkan perempuan masih mendapatkan perlakuan yang berbeda dengan laki-laki dalam memeroleh kesehatan, pendidikan, kesempatan berpolitik hingga memeroleh pekerjaan.

Selain diskusi, ajang kali ini juga memberikan penghargaan kepada pejuang budaya, baik akademisi maupun non-akademis, yang secara konsisten melestarikan budaya Nusantara.

Penghargaan terbagi menjadi dua kategori yakni Nusantara Academic Award dan Waskita Nusantara Award.

Nusantara Academic Award adalah penghargaan untuk karya akademik hasil riset ilmiah seperti disertasi doktor dan tesis master yang membahas aneka ragam kebudayaan Nusantara.

Adapun Waskita Nusantara Award adalah penghargaan non-akademik untuk para pelestari budaya Nusantara.

“Ke depan, perlu ada semakin banyak kelompok sosial, lembaga swadaya masyarakat, perorangan atau komunitas yang peduli dengan aset-aset kultural, spiritual, dan intelektual warisan para leluhur Nusantara,” kata Co-Founder Nusantara Kita Foundation Ida Widyastuti.

Editor : Vien Dimyati