Sejarah Tari Gambyong Pareanom di Dhaup Ageng Mangkunegaran Gusti Sura dan Kanjeng Dimas
Sejak saat itu, Gambyong Pareanom menjadi salah satu identitas kesenian Mangkunegaran. Tarian ini juga menjadi bagian dari perkembangan Tari Gambyong yang kemudian memiliki berbagai variasi koreografi.
Nama Pareanom sendiri merujuk pada warna hijau muda kekuningan yang menjadi bagian dari identitas Mangkunegaran. Sementara itu, nama Gambyong Pareanom juga berkaitan dengan gending atau iringan musik yang digunakan dalam tarian tersebut.
Dalam perkembangannya, Gambyong tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi tarian penyambutan. Gerakannya yang luwes, lembut, dan dinamis menghadirkan kesan ramah sekaligus anggun ketika dipentaskan di hadapan tamu.
Keistimewaan Gambyong Pareanom dalam Dhaup Ageng kali ini juga berkaitan dengan upaya menjaga kesinambungan tradisi. Tarian yang dahulu hadir dalam pernikahan Gusti Nurul kini kembali ditampilkan dalam pernikahan Gusti Sura.
Dengan demikian, pertunjukan tersebut tidak hanya menjadi bagian dari kemeriahan resepsi, tetapi juga membawa ingatan tentang perjalanan budaya Mangkunegaran selama puluhan tahun.

Dari tari rakyat yang berkembang menjadi kesenian istana hingga menjadi bagian dari tradisi penyambutan, Gambyong Pareanom memperlihatkan bagaimana sebuah warisan budaya dapat terus hidup melalui berbagai generasi.
Kehadirannya dalam Dhaup Ageng Gusti Sura dan Kanjeng Dimas sekaligus menghubungkan perayaan pernikahan masa kini dengan sejarah yang pernah terukir 75 tahun silam.
Editor: Muhammad Sukardi