Sektor Utama Ekonomi Nasional, Pariwisata Akan Menjadi Penghasil Devisa Terbesar

Tuty Ocktaviany ยท Senin, 09 September 2019 - 16:29 WIB
Sektor Utama Ekonomi Nasional, Pariwisata Akan Menjadi Penghasil Devisa Terbesar

Borobudur menjadi salah satu destinasi super prioritas yang diharapkan bisa menggaet turis lebih banyak. (Foto: iNews.id/Tuty Ocktaviany)

JAKARTA, iNews.id – Indonesia memiliki potensi pariwisata yang sangat luar biasa dan primadona bagi wisatawan Nusantara dan mancanegara. Tidak salah jika pariwisata ditetapkan sebagai sektor utama ekonomi nasional.

Ya, pariwisata memang menjadi sektor yang menjanjikan saat ini. Bahkan, pariwisata akan menjadi penghasil devisa terbesar nantinya.

“Tahun 2018, devisa sektor pariwisata sebesar 19,2 miliar dolar Amerika Serikat (AS). Untuk 2019, kita proyeksikan 20 miliar dolar AS,” tutur Kepala Biro Komunikasi Publik Kemenpar Guntur Sakti kepada iNews.id, Senin (9/9/2019).

Kadispora Kabupaten Magelang Iwan Sutiarsa (kiri) bersama Kepala Biro Komunikasi Publik Kemenpar Guntur Sakti. (Foto: iNews.id/Tuty Ocktaviany) 

Ditetapkannya pariwisata sebagai sektor utama ekonomi nasional, memang bukan tanpa alasan. Belakangan ini, pariwisata di Indonesia memang tumbuh pesat.

Menurut Guntur, pariwisata selalu menjanjikan. Tidak hanya memberikan dampak langsung pada devisa dari kunjungan wisman, tetapi juga produk domestik bruto (PDB) dari pergerakan wisatawan Nusantara (wisnus) dan membuka lapangan kerja di sektor-sektor yang terkait dengan pariwisata.

Dengan potensi pariwisata yang dimiliki, tentu saja lebih mudah untuk mengaet turis semakin banyak berkunjung ke Indonesia. Termasuk juga memikat para investor.

Ini pula yang sudah banyak dilakukan selama lima tahun belakangan ini dalam menarik wisatawan dan investor.

“Sektor pariwisata saat ini telah ditetapkan menjadi core ekonomi bangsa. Pertumbuhannya semakin meroket dengan dukungan infrastruktur yang terus berkembang pesat. Hal ini jelas memacu pertumbuhan investasi di sektor pariwisata,” kata Guntur.

Menurutnya, pariwisata semakin terlihat seksi di mata investor. Hingga kuartal I tahun 2018, nilai realisasi investasi pariwisata sudah mencapai 21,67 persen atau 433,5 juta dolar AS.

“Dengan pertumbuhan yang besar, dipastikan pariwisata akan menjadi sumber devisa terbesar Indonesia. Alasannya, Indonesia memiliki potensi pariwisata yang sangat luar biasa. Untuk itu, investasi di sektor pariwisata jelas akan menguntungkan,” ucapnya.

Guntur menegaskan bahwa investasi di Indonesia untuk pariwisata pasti bikin untung. Pasalnya, pariwisata merupakan salah satu leading sector di Indonesia.

“Komitmenya jelas. Potensinya berlimpah. Apalagi saat ini investor asing telah banyak yang melirik. Jadi, investor lokal kalau masih ragu berinvestasi di sektor pariwisata, ya rugi. Masuk sekarang sebelum terlambat,” katanya.

Target 20 Juta Wisatawan di 2019

Jumlah kunjungan wisatawan ke Indonesia memang terus bertambah. Untuk itu, target 20 juta kunjungan pada 2019 diharapkan tercapai.

Lantas, apa saja yang digalakkan saat ini dan strateginya?

“Persis dengan arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi), yang sudah meninjau Destinasi Super Prioritas Borobudur, Kaldera Danau Toba, Komodo Labuan Bajo, Mandalika Lombok, dan Bitung Sulawesi Utara. Konsentrasi ke produk, kesiapan destinasi, infrastruktur dasar, utilitas dasar, sumber daya manusia (SDM), industri pariwisata yang berbasis pada Tourism 4.0, dan lainnya. Dua bulan terakhir, terus mengeksplor destinasi dengan semua potensinya,” tutur Guntur.

Sementara itu, strategi ke depan untuk mengejar ketinggalan di semester II, Guntur memberikan penjelasan singkat.

“Framework 9 bagan itu terus kami implementasikan di lapangan dengan lebih cepat. Ada Ordinary, Extra Ordinary, dan Super Extra Ordinary. Misalnya, hot deals, tourism hub, dan incentive transportation, akan menjadi kekuatan untuk mendatangkan wisman ke Tanah Air,” ucapnya.

Guntur menambahkan, saat ini pemerintah tengah fokus pada pembangunan empat destinasi super prioritas yang masuk dalam kebijakan strategis dan mendapatkan alokasi khusus dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2020.

“Keempat destinasi super prioritas tersebut ditargetkan bisa memberikan devisa bagi negara hingga 5,5 miliar dolar AS.

Menurutnya, pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp6,4 triliun pada 2020 untuk pembangunan infrastruktur destinasi super prioritas.

“Pembangunan utilitas dasar harus tuntas pada 2020, agar pengembangan selanjutnya dapat segera dilakukan. Setelahnya baru dipromosikan secara massif,” katanya.

Sementara itu terkait perkembangan empat destinasi prioritas (Mandalika, Danau Toba, Labuan Bajo, dan Borobudur) saat ini, menurut Guntur semakin baik.

“Pemerintah menggelontorkan anggaran tambahan sebesar Rp6,4 triliun yang dibagi keempat destinasi super prioritas ke beberapa kementerian atau lembaga pada 2020. Bila dirata-rata, masing-masing destinasi mendapat Rp1,6 triliun,” ucapnya.

Dengan komitmen pemerintah, pariwisata Indonesia pun terus meroket tajam. Buktinya tahun 2017, The Telegraph menempatkan Indonesia dalam "Top-20 Fastest Growing Tourism Industry in the World”. Sedangkan di 2018, World Travel & Tourism Council (WTTC) menempatkan Indonesia di posisi sembilan negara dengan pertumbuhan wisman tercepat di dunia.

Rupanya, pertumbuhan pariwisata yang pesat itu tidak lepas dari branding yang kuat. Strategi branding Wonderful Indonesia untuk penetrasi secara online, memang masih lebih bagus dibandingkan Thailand dan Malaysia. Namun, masih kalah dengan Singapura.

Untuk menyiasati itu, kata Guntur, ada hal yang bisa dioptimalkan saat ini. “Pentingnya Calibration, Credibility, Confidence (3C) bagi Indonesia. Dan, bagaimana strategi untuk meningkatkan citra Indonesia di kancah global melalui kompetisi internasional dengan beberapa tujuan,” katanya.

Pertama, meningkatkan kesadaran seluruh pemangku kepentingan Academics, Business, Government, Community, Media (ABGCM) akan pentingnya memposisikan kepariwisataan Indonesia di dunia internasional. Lalu kedua, meningkatkan peran seluruh ABGCM dalam wadah 'Indonesia Incorporated' untuk bersama-sama membawa kepariwisataan Indonesia sebagai 'the best destination ini the world'.

Ketiga, mendorong dukungan dari seluruh unsur ABGCM sesuai dengan kapasitasnya untuk menyukseskan program pemenangan penghargaan kepariwisataan Indonesia di ajang internasional sebanyak-banyaknya. Kemudian keempat, mengharapkan komitmen dan dukungan dari Pemda bagi industri atau atraksi wisata di daerahnya yang terpilih untuk dinominasikan dalam kompetisi internasional.

Selanjutnya terkait daya saing pariwisata Indonesia dibanding negara lain, menurut Guntur, ada lembaga dunia yang paling terpercaya dan dijadikan referensi 140 negara di dunia untuk memeringkat dengan kriteria yang jelas.

“Sedikitnya 14 pilar yang dikalibrasi dengan standar yang sama oleh Travel & Tourism Competitiveness Index, World Economic Forum (TTCI) yang berpusat di Geneva Swiss. Posisi Indonesia terus melesat naik. Dan kenaikan itu, bisa dirasakan oleh kalangan industri yang bergerak di sektor pariwisata Tanah Air. TTCI 2017 yang dikeluarkan secara resmi oleh World Economic Forum (WEF) bahwa Indonesia tembus di peringkat 40 tahun 2019,” tuturnya.

Dengan pencapaian tersebut, berimbas pula pada penghargaan yang diterima oleh Kementerian Pariwisata.

“Pariwisata Indonesia memperoleh berbagai prestasi dunia. Tahun 2016, Kemenpar memperoleh 46 penghargaan dunia. Di tahun 2017, Kemenpar memperoleh 27 penghargaan dunia. Sedangkan tahun 2018, sebanyak 66 penghargaan,” ujarnya.

Dihubungi secara terpisah, pengamat gaya hidup Sonny Muchlison menilai pariwisata di Indonesia memang terus berkembang. Namun, masih banyak pula yang perlu dioptimalkan agar bisa menggaet turis lebih banyak ke Indonesia.

“Kalangan pelaku industri pariwisata perlu memperbanyak paket-paket wisata yang lebih detail. Tidak hanya rundown yang jelas kemana saja turis akan berwisata, tetapi juga kelengkapan informasi terkait destinasi yang dituju. Mapping lokasi juga sangat penting,” tutur Sonny kepada iNews.id, Senin (9/9/2019).

Selain itu, kata Sonny, destinasi-destinasi di daerah masih belum banyak yang menyediakan leaflet. Padahal, ini menjadi panduan penting bagi wisatawan lokal maupun mancanegara.

“Pemandu wisata di daerah juga masih sedikit. Saatnya diperbanyak lagi mitra ke daerah untuk memberikan pelatihan kepada masyarakat setempat. Sehingga mereka bisa menceritakan destinasinya kepada turis dengan mudah. Termasuk mengoptimalkan potensi daerah pembuatan suvenir yang asli daerahnya,” kata desainer sekaligus dosen salah satu perguruan tinggi di Jakarta ini.

Dengan strategi itu, Sonny berharap wisatawan yang berkunjung ke destinasi-destinasi di Indonesia merasa nyaman. Mereka juga bisa kembali lagi dengan membawa orang lain, begitu seterusnya.


Editor : Tuty Ocktaviany