Terpikat Keindahan Banana Island di Lampung, Spot Eksotis Melihat Lumba-Lumba
Dari sisa-sisa bangunan dermaga yang menjorok ke laut tersebut, Anda bisa loncat dan menyelami keindahan laut, menikmati airnya yang segar. Menjelang senja, keindahan pantai ini semakin lengkap dengan hadirnya matahari jingga yang turun perlahan seolah ditelan lautan di ufuk barat.
Spot lainnya, Batu Inton. Spot ini masih masuk ke dalam wilayah Pekon Pasar. Di sini, Anda dapat menyaksikan kerlap kerlip batu pantai yang diterpa sinar matahari, seperti melihat kilauan intan yang eksotis. Tak jauh dari Batu Inton, ada Gua Liang. Spot ini masuk dalam wilayah Pekon Bandar Dalam. Anda dapat melihat pemandangan laut lepas yang memesona, termasuk memandangi keindahan Batu Inton.
Di sepanjang perjalanan menuju Gua Liang, Anda akan menemukan banyak sekali kera ekor panjang bergantungan dan berlompatan dari satu pohon ke pohon lain. Sensasi perjalanan yang sulit untuk dilupakan. Spot lain yang juga harus dikunjungi adalah Batu Tiga. Letaknya di Pekon Sukamarga. Spot ini masih satu jalur dengan Gua Liang. Spot terakhir yang paling sering dikunjungi wisatawan adalah Batu Bughi (Ghuri). Spot ini masuk ke dalam Pekon Labuhan. Salah satu spot yang paling banyak dijadikan lokasi selfie.
Untuk mencapai Pulau Pisang Anda harus melakukan perjalanan darat dari Bandar Lampung menuju Krui (Bandar Lampung menuju Pringsewu, lanjut ke Kota Agungm Sedayu Bengkunet hingga Krui). Perjalanan ini biasanya memakan waktu 6-7 jam. Setibanya di Krui, ada dua alternatif jalur yang bisa dipilih untuk menuju tempat wisata ini.
Jalur Pertama, melanjutkan perjalanan darat selama 20 menit dari Krui hingga Pekon Tebakak menggunakan ojek. Dari Pelabuhan Tebakak perjalanan dilanjutkan menggunakan jukung (perahu) menuju Pulau Pisang. Perjalanan laut ini memakan waktu sekitar 15-20 menit, tergantung ombak. Harga tiket untuk sekali penyeberangan Rp15.000 per orang.
Pilihan kedua, perjalanan laut langsung dari Dermaga Kuala Krui. Dari Dermaga Krui hingga lokasi membutuhkan waktu sekitar satu jam. Perjalanan yang harus ditempuh memang lebih lama, namun ombak di jalur ini lebih bersahabat. Jika beruntung, Anda dapat melihat gerombolan lumba-lumba berenang di samping kapal.
Anda tidak akan mendapati aliran listrik di pulau ini. Warga sekitar hanya mengandalkan genset untuk menerangi rumah mereka pada saat malam. Itupun sampai pukul 23.00. Bagi Anda yang ingin menginap, penduduk menyediakan homestay yang bisa disewa dengan tarif sekitar Rp200.000 per malam.
Editor: Vien Dimyati