Wamenparekraf Ungkap Tantangan Pariwisata Indonesia Usai Pandemi Covid-19

Vien Dimyati · Rabu, 21 Oktober 2020 - 14:10:00 WIB
Wamenparekraf Ungkap Tantangan Pariwisata Indonesia Usai Pandemi Covid-19
Wamenparekraf ungkap tantangan pariwisata usai pandemi (Foto: Ist)

JAKARTA, iNews.id - Usai pandemi Covid-19 akan tercipta tren wisata baru. Turis yang melakukan perjalanan wisata akan mencari tempat-tempat wisata yang nyaman, sehat, bersih, dan memerhatikan kelestarian lingkungan.

Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Wamenparekraf), Angela Tanoesoedibjo mengatakan, secara ringkas, tantangan pariwisata di Indonesia sebelum pandemi adalah masih banyaknya potensi market yang belum tergarap. Selain itu, wisatawan masih terkonsentrasinya kepada beberapa destinasi di Indonesia, sehingga pencapaian belum maksimal.

"Dengan adanya pandemi ini, tantangan pariwisata adalah perubahan market demand yang harus bisa kita antisipasi dan hadapi, serta kompetisi. Maka dari itu, Kemenparekraf Baparekraf saat ini menjalin kerjasama dengan Roland Berger untuk menyusun kajian strategi dan arah baru pengembangan kepariwisataan nasional pasca-Covid-19," kata Wamenparekraf Angela Tanoesoedibjo saat keynote speech acara Kajian Strategi dan Arah Baru Pengembangan Kepariwisataan Nasional Pasca-Covid-19, di Jakarta, Rabu (21/10/2020).

Menurut Angela, harapannya Indonesia dapat memaksimalkan potensi sebagai tujuan wisata utama kelas dunia. Dan juga manfaat ekonomi serta manfaat penciptaan lapangan kerja yang didapatkan dari sektor pariwisata dapat turut membantu pemulihan ekonomi Indonesia paska Covid-19.

Dia menjelaskan, hasil kajian yang disusun dengan Roland Berger, diharapkan dapat menghasilkan perencanaan yang matang, komprehensif, terstruktur dan terukur, secara kualitatif maupun kuantitatif, dan dengan dukungan data yang akurat.

"Terutama, melihat saat ini, komitmen anggaran untuk pembangunan pariwisata oleh pemerintah sangatlah besar, sehingga pembangunan ini harus disertai dengan pendalaman potensi market. Jadi supply pariwisata yang sedang kita bangun, bisa matching dengan potensi market yang ada dan yang akan datang," kata Angela.

Lanjut Angela, ketika sudah bisa mencocokan antara potensi destinasi dengan potensi market, pengembangan destinasi, produk, pengalaman, dan lain sebagainya itu, tentunya bisa disesuaikan dengan profiling market yang akhirnya bisa menghasikan spending yang besar serta length of stay yang lama. Terutama, menciptakan loyalitas, atau repeat traveler, sehingga pada akhirnya, Indonesia menjadi top of mind atau pilihan terutama dalam berwisata.

"Dalam perencanaan tentunya perlu memerhatikan apa yang menjadi keunikan dan daya tarik di Indonesia, di antaranya yaitu alam, budaya dan ekonomi kreatifnya, sehingga hal-hal yang menjadi keunikan ini, perlu menjadi bagian sentral dalam pengembangan destinasi dan produk pariwisata," katanya.

Menurutnya, perlu ada strategi pelestarian yang bisa selaras dengan pemanfaatannya, sehingga aset pariwisata dan pemanfaatan dari aset pariwisata ini bisa terus dirasakan sampai ke generasi mendatang.

"Dalam perencanaan pembangunan pariwisata memang harus komprehensif, end to end, contohnya ketika kita bicara suatu market, maka harus diiringi dengan strategi konektivitasnya, seperti ketersediaan dari direct flight kepada market tersebut, juga sampai kepada pengembangan sumber daya manusia yang harus direncanakan sesuai dengan target pengembangan industri," katanya.

Angela menuturkan, Pariwisata Indonesia beruntung mempunyai pangsa pasar domestik yang besar. Namun, satu hal yang harus diperhatikan yaitu pasar domestik ini masih belum maksimal pengelolaannya.

"Pada 2019, dengan 16,11 juta wisatawan mancanegara telah menyumbang Rp280 triliun, versus 282,93 perjalanan wisatawan nusantara yang menyumbang pengeluaran Rp307.35 triliun. Jadi wisnus secara kuantitas memang jauh lebih besar dibandingkan dengan wisman namun, secara rupiah, tidak berbeda jauh," katanya.

Menurutnya, dalam strategi jangka pendek, pemulihan pariwisata pasca Covid-19, meningkatkan spending dari wisatawan domestik ini menjadi sangat penting, dan harus direncanakan dengan matang.

Angela menjelaskan, terutama memasukkan potensi dari wisatawan outbound yang bisa didorong untuk spending di Indonesia. Di mana tercatat, wisatawan dari Indonesia ke luar negeri tahun 2018 sebesar, 9,5 juta dengan pengeluaran 1.090 dolar AS/ departure/ pax (atau total sebesar 10,355 miliar dolar AS, kurang lebih Rp150 triliun). Ini merupakan market yang bisa dicapture juga dalam strategi pengembangan wisatawan nusantara ke depannya.

Dia melanjutkan, komitmen pemerintah dalam pembangunan pariwisata sangatlah besar. Pada 14 Agustus 2020, dalam penyampaian RUU APBN 2021 dan nota keuangan, Presiden Joko Widodo menyampaikan, untuk menggenjot pemulihan sektor pariwisata, pemerintah menganggarkan pembangunan pariwisata pada 2021 mencapai Rp14,4 triliun yang difokuskan pada 5 destinasi wisata dari 10 bali baru yang dicanangkan pemerintah.

"Maka dari itu, sekali lagi, sangatlah penting bagi Kemenparekraf/Baparekraf untuk menyiapkan dasar kebijakan dan upaya-upaya strategis dalam meningkatkan ketahanan dan kemampuan sektor pariwisata serta mendorong akselerasi pengembangan sektor pariwisata nasional dan daerah pasca Covid-19," kata dia.

Selain itu, lanjut Angela, ini semua dilakukan dengan harapan dapat memberikan semangat baru bagi seluruh stakeholders pariwisata, meningkatkan jumlah wisatawan yang berkualitas, meningkatkan devisa negara dengan signifikan, menciptakan lapangan pekerjaan baru, menciptakan value chain baru, serta menciptakan pariwisata Indonesia yang lebih berkualitas dan berkelanjutan.

Editor : Vien Dimyati

Bagikan Artikel: