Kisah Inspiratif Bude Puji Penjual Nasi di Pelabuhan Bakauheni yang Suka Berbagi, Menyentuh Hati
Tidak hanya dikenal karena kebaikannya, Budi Puji juga dikenal karena harga makanan yang cenderung ramah di kantong meski ia berjualan di area pelabuhan. Di tengah banyaknya penjual lain yang menaikan harga, ia menolak mengambil keuntungan berlebih meskipun di tengah musim mudik Lebaran.
Bagi dirinya, harga normal adalah cara terbaik untuk menjaga kepercayaan dan keberkahan usaha warung nasinya.
"Kalau saya tetap sama aja (harganya). Bukannya, 'kesempatan orang mudik', enggak, tetap seperti normal hari biasa. Nasi ayam untuk orang sini Rp20.000 sudah lengkap. Tapi kalau sama penumpang itu Rp25.000. Kalau nasi telur sama sayur-sayur Rp15.000. Paling mahal bebek Rp35.000," tutur dia.
Meskipun pendapatannya terlihat lebih kecil dibandingkan masa jayanya dulu, justru ia merasa hidupnya jauh lebih tenang dan berkecukupan saat ini. Bahkan, dari hasil berjualan nasi saja ia mampu membayar karyawan, membiayai sekolah anak-anaknya di pondok pesantren, hingga menebus sawah yang sempat digadaikan karena terjebak penipuan trading.
"Walaupun saya pendapatannya segitu, kalau dibilang enggak pernah sehari dapat misalnya sepuluh juta, enggak pernah. Tapi kenapa kok bisa gitu kan? (Tercukupi) Alhamdulillah sawah yang saya gadaikan sudah saya tebus. Tadinya motor cuma satu ya sekarang udah ada tiga. Alhamdulillah," pungkas Bude Puji.
Hingga saat ini ia masih setia berjualan di Pelabuhan Bakauheni dan semakin dikenal oleh para kru kapal, pedagang asongan bahkan orang-orang yang ia tolong dahulu saat terlantar di Pelabuhan Bakauheni.
Editor: Muhammad Sukardi