Kulineran di Bendungan Saguling Bandung, Unik seperti Berada di Kapal Titanic

Adi Haryanto ยท Sabtu, 21 November 2020 - 23:29:00 WIB
Kulineran di Bendungan Saguling Bandung, Unik seperti Berada di Kapal Titanic
Kulineran di Bendungan Saguling (Foto: SINDOnews/Adi Haryanto)

 BANDUNG BARAT, iNews.id - Ada banyak destinasi menarik di Bandung yang bisa dijelajahi sat liburan. Mulai dari pegunungan, air terjun, hingga tempat Instagramable memiliki daya pikat tersendiri.

Bahkan, beragam kreasi dan inovasi unik dilakukan para pebisnis serta pelaku usaha untuk menarik konsumen datang. Bukan hanya di daratan, permukaan air pun celah pintu rezeki yang sangat menjanjikan ketika dikemas dengan konsep yang tepat.

Ide gila, pemikiran 'out of the box', membuat restoran terapung di genangan air bendungan Saguling awalnya dipandang sebagai hal yang mustahil. Namun berkat ketekunan, kerja keras, dan keyakinan, akhirnya restoran terapung dengan nama Napak Sancang bisa terwujud. 

"Awalnya banyak yang menyangsikan dan menganggap ide saya (restoran terapung) ini gila. Tapi saya tidak hiraukan itu, karena untuk maju selain butuh modal, diperlukan juga keyakinan," kata pemilik Napak Sancang, Aep Nurdin dalam perbincangannya dengan SINDOnews, Sabtu (21/11/2020).

Dirinya mulai merintis dari nol membangun dermaga dan restoran terapung di tahun 2013. Lahan yang dipakai adalah hamparan genangan bendungan Saguling di Kampung Sayuran, Desa Mekar Mukti, Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Idenya muncul saat dirinya sedang berdiri di tepian bendungan dan mandang luas hamparan air. Saat itu terpikir bagaimana memanfaatkan permukaan air menjadi ladang usaha dan membuka lapangan pekerjaan bagi warga sekitar. Akhirnya tercetuslah membuat rumah makan terapung.

Diawali dengan bangunan kecil sederhana, setapak demi setapak respons konsumen sangat positif. Akhirnya restoran terapung mengalami pelebaran dan perubahan bentuk menjadi seperti perahu yang sedang mengapung. Kini luas restoran terapung Napak Sancang sudah mencapai 5.000 meter persegi, dengan panjang 100 meter dan lebar 25 meter. 

"Di sini kami menjual makanan khas ikan bakar/goreng, ayam bakar/goreng, nasi timbel, dan beragam menu khas sunda. Semuanya disajikan dadakan dan ikannya juga dijaring dadakan, pengunjung bisa milih," ujarnya.

Disinggung makna dari nama Napak Sancang, Aep menyebutkan jika filosopinya adalah mengambang di atas air. Jadi pengunjung yang datang ke sini mereka bisa merasakan seperti makan di kapal terapung dari mulai haluan, geladak, hingga buritan,  sambil menikmati suasana alam sekitar. 

"Memang tempatnya dibuat seperti kapal, mimpinya seperti Titanic, walaupun dalam versi sederhana. Targetnya bangunan kapal ini bisa mencapai luas hingga 10.000 meter persegi, dengan fasilitas restoran, ruang pertemuan, aula pernikahan, di dalamnya. Jadi menjadi restoran terapung terbesar di Bandung Barat," kata pria bersahaja ini. 

Pengunjung yang datang ke tempat ini memang tidak hanya sekadar makan. Mereka bisa merasakan berlayar dengan perahu mulai dari tiba dan pulang. Sebab ketika datang, dari tempat parkir untuk menuju restoran terapung harus naik perahu sejauh kurang lebih 100 meter. Semua itu gratis tidak dipungut biaya, karena perahu selalu siap mengantarkan kapan pun juga.

Salah seorang pengunjung, Dian Yulianti mengaku, sangat senang bisa menikmati sensasi makan bersama keluarga di restoran terapung Napak Sancang. Selain harga makanan yang relatif terjangkau, suasana alam dan tempatnya juga sangat menyejukan. Apalagi ada spot-spot foto yang Instagramable sehingga bisa berfoto dan jadi kenang-kenangan di media sosial. 

"Suasananya enak dan pemandangannya asyik. Makan di atas kapal jadi pengalaman pertama bagi keluarga, kerasa juga ada goyang-goyang dikit, seru aja," tutur warga Kota Bandung ini.

Editor : Vien Dimyati