SEATTLE, iNews.id – Selama lebih dari dua dekade, Chief Executive Officer (CEO) Amazon Jeff Bezos mengorbankan keuntungan demi pertumbuhan bisnis untuk membawa Amazon menjadi Wal-Mart di dunia maya. Alhasil, tak ada keuntungan yang diperoleh meski perusahaan tersebut sudah go-public sejak 1997.
Baru-baru ini, investor Amazon bisa sedikit bernafas lega karena perusahaan mulai mencari keuntungan lewat bisnis jasa pelayanan komputasi awan sehingga bisa menutupi kerugian dari bisnis perdagangan elektronik (e-commerce). Tapi tetap saja, marjin laba Amazon dalam lima tahun terakhir hanya berada pada kisaran 1 persen saja.
Kini, Amazon ingin mencari keuntungan yang lebih konsisten dan berkesinambungan, yakni iklan. Saat Amazon mengumumkan bisnis jasa pelayanan komputasi awan, saham Amazon melewati rekor 1.300 dolar Amerika Serikat (AS) per lembar. Lewan iklan, para investor diyakini semakin senang karena tidak membutuhkan investasi besar seperti pusat data atau gudang, sehingga bisa memperoleh profit laba lebih gemuk.
Perusahaan sekuritas di bursa Wall Street BMO Capital Markets menaikkan target harga saham Amazon menjadi 1.600 dolar AS per lembar karena rencana baru ini. Bahkan, beberapa analis memproyeksikan saham Amazon bisa menembus 2.000 dolar AS per lembar sehingga berpotensi menjadi emiten pertama dengan nilai kapitalisasi pasar sebesar 1 triliun dolar AS.
“Periklanan merupakan bisnis paling menguntungkan di dunia. Bagi Amazon, periklanan akan jauh lebih menguntungkan daripada bisnis komputasi awan,” kata Jay Kahn, partner di Light Street Capital seperti dikutip dari Bloomberg, Sabtu (20/1/2018).