Prospek periklanan di AS pun terbilang bagus. Berdasarkan riset EMarketer Inc, pada 2021, iklan di website dan perangkat mobile akan melewati separuh dari seluruh porsi iklan di AS, atau lebih banyak daripada iklan televisi, radio, koran, dan media luar ruang disatukan.
Sejauh ini, sebagian besar iklan di dunia maya mengalir ke Google dan Facebook. Sementara Amazon hanya meraup 1,7 miliar dolar AS dari bisnis periklanan pada tahun lalu sementara Google dan Facebook masing-masing mendapat 35 miliar dolar AS dan 17,4 miliar dolar AS.
Amazon pun dianggap mampu berkompetisi dengan dua perusahaan raksasa tersebut. Pasalnya, Amazon memiliki platform iklan yang tidak dimiliki perusahaan lainnya yaitu toko web yang menjual ratusan juta produk plus layanan hiburan streaming dan data tentang preferensi pelanggan. Amazon juga tercatat memiliki 180 juta pengunjung dari AS setiap bulan dengan semua atau sebagian besar dari mereka memiliki pikiran untuk berbelanja.
Sejumlah perusahaan juga tertarik untuk beriklan di Amazon karena berbeda dengan Google yang berbasis mesin pencari dan Facebook yang berbasis media sosial, pengunjung Amazon memiliki preferensi yang lebih kuat untuk membeli. Selain itu, beriklan di Amazon juga memberikan insight secara real time dibandingkan beriklan di media tradisional seperti TV atau kupon.
“Perusahaan grosir juga tengah memindahkan anggaran iklan mereka tidak ingin kehilangan pelanggan dari Amazon,” kata Guru Hariharan, mantan eksekutif Amazon dan CEO Boomerang Commerce.
Berdasarkan data Cadent Consulting Group, produsen dan perusahaan grosir menghabiskan dana sekitar 225 juta dolar AS setiap tahun untuk iklan dan promosi di toko-toko.