Bangladesh tambah libur sekolah dan pangkas jam kantor demi hemat listrik. Foto: Reuters
Dinar Fitra Maghiszha

DHAKA, iNews.id - Bangladesh akan meliburkan sekolah untuk satu hari lagi setiap minggu dan mengurangi jam kerja di kantor. Ini dilakukan untuk menghemat listrik di negara itu.

Negara Asia Selatan tersebut telah memulai pemadaman listrik dua jam setiap hari sejak bulan lalu. Sementara para pengunjuk rasa turun ke jalan dalam beberapa pekan terakhir setelah pemerintah menaikkan harga bensin lebih dari 50 persen. Perang di Ukraina telah menaikkan biaya impor bahan bakar dan merugikan ekonomi Bangladesh dan cadangan mata uang asing.

Mengutip BBC, Sekretaris Kabinet Bangladesh Khandker Anwarul Islam pada Senin (22/8/2022) lalu mengatakan, sekolah yang sebelumnya hanya ditutup pada hari Jumat, sekarang juga akan ditutup pada hari Sabtu. Dalam keadaan normal, sekolah di Bangladesh buka selama enam hari seminggu, yakni Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Sabtu, dan Minggu.

Sementara itu, kantor pemerintah dan bank akan dikurangi jam operasionalnya menjadi tujuh jam sehari dari sebelumnya delapan jam. Namun, kantor swasta akan diizinkan untuk mengatur jam operasional mereka sendiri.

Dia menambahkan, pemerintah akan terus memberikan listrik ke desa-desa, termasuk di pagi hari ketika tanaman diairi. Banyak wilayah di Bangladesh yang diketahui mati listrik selama lebih dari dua jam sehari. Negara ini menghasilkan sebagian besar listriknya dari gas alam, beberapa di antaranya diimpor.

Adapun para pejabat telah menutup semua pembangkit listrik tenaga diesel negara itu, yang menyumbang sekitar 6 persen dari pembangkit listrik Bangladesh karena meningkatnya biaya impor bahan bakar.

Awal bulan ini, harga bensin dinaikkan lebih dari 50 persen, dengan biaya bahan bakar naik dari 86 taka atau Rp13.500 per liter menjadi 130 taka atau sekitar Rp20.400 per liter. Pada saat yang sama, harga solar dan minyak tanah naik lebih dari 40 persen.

Pada Juli lalu, Bangladesh menjadi negara Asia Selatan ketiga yang mencari pinjaman dari Dana Moneter Internasional (IMF), setelah Sri Lanka, dan Pakistan. Sementara nominal pinjaman potensial belum diputuskan, pembicaraan diharapkan akan dimulai setelah Pertemuan Tahunan IMF dan Bank Dunia pada Oktober mendatang.

Cadangan mata uang asing Bangladesh telah menyusut menjadi sekitar 40 miliar dolar AS atau empat setengah bulan dari pengeluaran pemerintah biasa. Dalam beberapa tahun terakhir, ekonomi Bangladesh sempat dipuji sebagai salah satu yang tumbuh paling cepat di dunia. 


Editor : Jujuk Ernawati

BERITA TERKAIT