"Peningkatan target itu ditopang oleh rencana penjualan ekspor untuk batu bara medium to high calorie ke pasar premium seiring dengan membaiknya harga batu bara dan kenaikan pemintaan batu bara," katanya.
Kenaikan target penjualan itu, lanjut dia, juga diikuti dengan kenaikan target produksi batubara. PTBA menargetkan produksi batubara 25,54 juta ton atau naik 17 persen dari tahun sebelumnya 21,92 juta ton.
Untuk mendukung target penjualan, Bukit Asam menargetkan angkutan batubara dari lokasi tambang sebesar 23,10 juta ton, masing-masing 19,40 juta ton ke Pelabuhan Tarahan, Lampung dan 3,70 juta ton ke Dermaga Kertapati, Palembang.
"Jumlah angkutan batu bara itu telah meningkat 13 persen dari target tahun 2017 sebesar 20,50 juta ton," katanya.
Terkait Holding Pertambangan, Arviyan menuturkan berbagai sinergi antar telah disiapkan, diantaranya proyek PLTU Halmahera Timur berkapasitas 2x40 MW. Dalam proyek ini, Bukit Asam akan menyediakan pasokan energi listrik bagi pabrik baru Feronikel milik PT Antam Tbk di Halmahera Timur, Maluku Utara.
Selain itu, ia menambahkan, PTBA dan Inalum akan bersinergi pada proyek PLTU Kuala Tanjung berkapasitas 2x350 MW. PLTU ini akan menyediakan pasokan energi listrik bagi pabrik ekspansi Alumunium Smelter II milik Inalum.