Dana Asing Cenderung Keluar dari Pasar Keuangan Indonesia, Ini Penyebabnya

Anggie Ariesta
Media Gathering Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas), Padalarang, Kamis (23/11/2023). (Foto: iNews/Anggie Ariesta)

"Oleh karena itu terjadi semacam persepsi bahwa ternyata US Treasury yang 10 tahun ada di sekitar 4,5 persen-4,6 persen dibandingkan rupiah bonds yang 10 tahun ada di 6,6 persen itu spare nya cuma 2 persen, tidak menarik dan bahkan berisiko," ujar Tomi.

Dengan US Treasury berada di kisaran 2,8 persen sampai 3,5 persen, artinya orang asing lebih cenderung 'tarik pulang aja deh rupiah bonds nya balikin ke dolar aja' karena dolar AS lebih menarik.

"Bahkan di Singapura juga kita melihat DHE DHE mungkin agak males dateng ke Indonesia karena Singapura masih nawarin 5,7 persen dibanding Indonesia perbankan sekitar 4 persen gitu," ungkap Tomi.

Dia mengungkapkan, BI memang belum bisa menurunkan suku bunga mengingat inflasi yang cukup tinggi. Meski demikian, dia mengapresiassi kebijakan BI untuk mengerem capital outflow. 

Salah satunya dengan meluncurkan Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI) dan Sukuk Valuta Asing Bank Indonesia (SUVBI). Kebijakan ini diharapkan memancing dolar untuk tetap stay, bahkan masuk ke Indonesia. 

Editor : Jeanny Aipassa
Artikel Terkait
1 hari lalu

IHSG Anjlok 6,96 Persen Sepanjang September 2026, Investor Asing Jual Saham Rp10,24 Triliun

13 hari lalu

BI Diprediksi Tahan Suku Bunga di 5,75 Persen, Ini Alasannya

1 bulan lalu

Masih Loyo, Rupiah Hari Ini Ditutup Melemah ke Rp17.763 per Dolar AS 

4 bulan lalu

Akankah Krisis Nilai Tukar 1997 Terulang?

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal