Kedua, Luhut Luhut beserta rombongan melakukan pertemuan dengan Perdana Menteri RDK, Jean-Michael Sama Lukonde Kyenge, Senin (23/1/2023). Pada pertemuan tersebut, Luhut menyampaikan empat isu strategis, di antaranya kerja sama terkait hutan tropis berkelanjutan dan aksi iklim, percepatan energi terbarukan, industri pertambangan yang berkelanjutan, dan pengembangan infrastruktur.
Dalam kesempatan tersebut, Luhut menindaklanjuti penandatangan pernyataan bersama antara tiga negara, yakni Indonesia, Brazil, dan Kongo pada tahun lalu di Bali untuk memprakarsai The Forest Climate Initiative dan akan berkolaborasi dengan negara lain seperti The Forest and Climate Leaders Partnership.
“RDK dan Brazil akan mengundang negara-negara Afrika dan Amerika Latin untuk bergabung dalam prakarsa tersebut. Indonesia dan RDK dapat berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam implementasi penetapan harga karbon,” kata Luhut.
Ketiga, Luhut mengunjungi Zimbabwe pada, Selasa (24/1/2023), sekaligus menjadi agenda terakhir Luhut di Afrika. Dalam kunjungan tersebut, Luhut bertemu dengan Presiden Republik Zimbabwe, Emmerson Mnangagwa dan mendiskusikan lima isu strategis untuk memperkuat kerja sama ekonomi, di antaranya industri pertambangan berkelanjutan dan transisi energi, bidang kesehatan, pengembangan infrastruktur transportasi, kerja sama hutan lestari, dan ekonomi digital.
Mengenai pembangunan infrastruktur transportasi, Pemerintah Indonesia ingin mengusulkan kerangka kerja sama dalam bidang perkeretaapian.
Selain itu, Indonesia juga mengusulkan kerja sama sistem digitalisasi dalam hal pembiayaan inovasi dan pemberdayaan kewirausahaan digital, peningkatan kapasitas dan pengembangan tenaga kerja, dan mempromosikan infrastruktur digital.
“Ini akan memberikan kontribusi yang sangat besar dalam menyusun strategi yang layak untuk kemakmuran bersama with our people, for our people,” ujar Luhut.