Mengenai arti strategis upgrading kilang eksisting atau Refinery Development Master Plan (RDMP), dan pembangunan kilang baru atau Grass Root Refinery (GRR) Pertamina, Ignatius memaparkan, proyek yang digagas sejak 2014 ini dilatarbelakangi sejumlah persoalan energi yang dihadapi Indonesia.
Untuk memenuhi optimum capacity kilang, crude yang diperlukan tidak cukup dari dalam negeri, tapi juga dari luar negeri. Sebagian besar crude impor merupakan sour crude dengan kandungan sulfur tinggi. Sementara kilang Pertamina dirancang untuk mengolah sweet crude, yaitu crude yang memiliki kandungan sulfur lebih rendah.
"Karenanya, kilang kita perlu penyesuaian agar lebih mudah dan efisien dalam mengolah crude dalam maupun luar negeri," ujar Ignatius.
Lebih lanjut, dia menjelaskan, hal tersebut juga berhubungan dengan kondisi kilang Indonesia yang sebagian besar sudah tua dengan teknologi lama dan kompleksitas lebih rendah, sehingga perlu segera dilakukan modifikasi untuk meningkatkan daya saingnya.
Tantangan lainnya, menyangkut supply and demand. Saat ini, Pertamina memiliki lima kilang yakni Balikpapan, Cilacap, Balongan, Dumai, Plaju dan satu kilang kecil di Sorong, dengan total produksi BBM sekitar 680 ribu barel per hari. Sementara konsumsi BBM nasional sejak 2017 mencapai 1,4 juta barel per hari.