JAKARTA, iNews.id - Musibah KRI Nanggala perlu diikuti dengan evaluasi menyeluruh terhadap anggaran alat utama sistem senjata (alutsista), terutama untuk peremajaan dan pemeliharaan.
Ekonom Narasi Institute, Achmad Nur Hidayat, mengatakan tragedi tenggelamnya kapal selam KRI Nanggala, memicu berbagai spekulasi seputar anggaran alutsista. Sejumlah kalangan juga menyoroti peremajaan alutsista TNI, termasuk KRI Nanggala yang usianya sudah mencapai 40 tahun.
Hidayat mengungkapkan, anggaran Alutsista saat ini mengalami ketimpangan antar matra. Dalam APBN 2020, alokasi anggaran alutsista untuk TNI Angkatan Darat (AD) sebesar Rp4,5 miliar, TNI Angkatan Laut (AL) Rp4,1 miliar, dan TNI Angkatan Udara (AU)Rp2,1 miliar.
"Selain ketimpangan antar matra, alokasi peremajaan alutsista dibandingkan komponen lain alutsista juga terbilang kecil. Total alokasi alutsista sebesar 10,7 miliar dealnya masing-masing matra memiliki anggaran peremajaan alutsista sekitar Rp45-50 miliar pertahun atau total 135-150 miliar," ujar Hidayat di Jakarta, Selasa (27/4/2021).
Dia mengungkapkan, upaya peremajaan alutsista nasional memang mahal. Oleh karena itu diperlukan langkah kreatif dari pengambil kebijakan pertahanan saat ini, salah satunya melalui aktivasi BUMN pertahanan yang masif.