Redma bahkan menyanggah pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani bahwa penyebab industri tekstil gulung tikar karena adanya praktik dumping. Dia menilai itu sebagai pengalihan isu lantaran adanya kegagalan dalam mengontrol Direktorat Jenderal Bea Cukai, yang berada di bawah naungan Kementerian Keuangan.
“Kita bisa melihat dengan mata telanjang, bagaimana banyak sekali oknum di Bea Cukai terlibat dan secara terang-terangan memainkan modus impor borongan/kubikasi dengan wewenangnya dalam menentukan impor jalur merah atau hijau di pelabuhan” tuturnya.
Redma mengatakan kinerja buruk Bea Cukai tersebut mengakibatkan adanya peningkatan barang impor tidak tercatat dari China dari tahun 2021 sampai 2023.
"Hal ini dapat terlihat jelas dari data trade map dimana gap impor yang tidak tercatat dari China terus meningkat 2,7 miliar dolar AS di tahun 2021 menjadi 2,9 miliar dolar AS di tahun 2022 dan diperkirakan mencapai 4 miliar dolar AS di tahun 2023," katanya.