Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati. (Foto: dok iNews)
Michelle Natalia

JAKARTA, iNews.id - Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati, mengatakan inflasi dan pelemahan ekonomi global menjadi fokus berbagai negara dan lembaga keuangan dunia hingga tahun 2023. 

Dia membeberkan, dalam pertemuan dengan Islamic Development Bank (IsDB) baru-baru ini, pembahasan mengenai risiko global akibat inflasi dan pelemahan ekonomi dirasakan betul dan menjadi isu hangat dalam Governors Roundtable iscussion. 

"Kita membahas mengenai munculnya risiko terutama dari sisi kenaikan inflasi karena kenaikan harga energi dan pangan yang mengakibatkan pengetatan kebijakan moneter," ujar Sri Mulyani, dalam Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR RI di Jakarta, Rabu(8/6/2022). 

Dia mengungkapkan, diskusi dalam forum itu membahas seberapa cepat dan ketat kebijakan moneter untuk menangani inflasi yang akan berdampak pada perlemahan dari sisi produksi. 

Hal ini, lanjutnya, akan terus menjadi bahan pembahasan pada level kebijakan makro di semua forum ekonomi dan keuangan, dan bahkan diprediksi akan muncul pembahasannya dalam diskusi forum G20.

"Jadi dalam konteks ini, kita akan lihat dampaknya. Kalau seandainya pengetatannya cepat dan tinggi, maka dampak terhadap perlemahan ekonomi global akan terlihat spillovernya ke seluruh dunia, dan kedua, asumsi terhadap inflasi dan nilai tukar akan menghadapi kemungkinan terjadinya hal tersebut," kata Sri Mulyani.

Menurut dia, dalam pembahasan secara teknis mengenai masalah growth dan tantangan global ini, semuanya sepakat bahwa persoalan inflasi di dunia saat ini kontribusi dari sisi produksi atau supply lebih dominan dibandingkan kontribusi dari sisi permintaan. 

Implikasi kebijakannya adalah jika kebijakan makro yaitu fiskal dan moneter terlalu cepat atau ketat, yang tujuannya akan lebih cepat mempengaruhi sisi demand, sebenarnya tidak menyelesaikan masalah dari sisi supply.

"Ini karena masalah awalnya terletak di sisi supplynya, yang pasokannya terkena disrupsi karena perang maupun karena pandemi, Ini akan menjadi tema terus menerus dari sekarang hingga tahun 2023 karena dinamika demand dan supply serta instrumen mana yang dianggap paling pas untuk bisa menyelesaikan potensi terjadinya stagflasi tanpa menimbulkan risiko ekonomi yang sangat besar. Ini yang akan menjadi tema di dalam kebijakan makro dan mikro, bahkan ke sektoral," tutur Sri Mulyani. 
 
Meski demikian, Menkeu tetap optimis bahwa di tahun 2023 momentum pemulihan ekonomi tetap berjalan di tengah-tengah berbagai risiko dan tantangan ekonomi global. 


Editor : Jeanny Aipassa

BERITA TERKAIT