Pesawat Lion Air. (Foto: Istimewa)
Michelle Natalia

JAKARTA, iNews.id - The International Bureau of Aviation (IBA) melaporkan sekitar 1.300 pesawat, termasuk 200 widebody, akan dikembalikan ke lessor pada tahun ini. Hal itu, disebabkan maskapai penerbangan tak mampu melanjutkan sewa akibat pandemi Covid-19 yang berkepanjangan. 

Presiden IBA, Phil Seymour, mengatakan pasar leasing pesawat komersial memang mengalami gejolak yang cukup besar sepanjang tahun ini.

Menurut dia, awalnya sewa sebagian besar pesawat akan diperpanjang. "Sayangnya opsi itu nampaknya sangat tidak mungkin dilakukan dengan adanya pandemi Covid-19 saat ini," ujar Phil Seymour.

Aplikasi penerbangan flightradar 24 memantau terdapat enam pesawat Lion Air Group terbang beriringan menuju Australia pada Jumat (6/8/2021). Sebelumnya tercatat pula pada Rabu (4/8), Garuda Indonesia mengembalikan 9 unit pesawat milik perusahaan persewaan (lessor), Aercap Ireland Limited (Aercap), ke Australia.

Phil Syemour mengungkapkan, pandemi Covid-19 menyebabkan jumlah penumpang pesawat turun drastis. "Ini mengakibatkan maskapai tidak mampu melanjutkan sewa pesawat dan memilih mengembalikannya ke pihak lessor," ujarnya.

Adapun jumlah maskapai yang berencana mengakhiri masa sewa tidak sedikit. Awalnya kebanyakan maskapai tidak melanjutkan sewa karena sedang restrukturisasi. 

Namun kemudian kondisi memburuk hingga menyebabkan banyak maskapai mengalami kerugian bahkan bangkrut. Hal ini membuat nasib armada-armada pesawat yang dikembalikan ke lessor semakin tak jelas masa depannya

"Ketidakpastian ini mematahkan pola yang selama ini sudah terbentuk. Biasanya ketika keuangan maskapai membaik, maka lessor akan mengirimkan ulang pesawat yang sempat dikembalikan," tutur Phil Seymour.

IBA memperkirakan bahwa penurunan aktivitas penyewaan pesawat ini akan berdampak negatif pada industri Maintenance, Repair, Overhaul (MRO), atau bengkel pesawat. 

Jumlah kunjungan ke bengkel pesawat dipastikan bakal menurun. Sebelum COVID-19, jumlah kunjungan pesawat ke bengkel sempat diperkirakan akan meningkat dari 3.200 pada 2019 menjadi 4.500 kunjungan pada 2023.

"Namun dengan kondisi sekarang, jumlah kunjungan pesawat yang masuk ke bengkel perawatan diperkiaran hanya akan mencapai 1.000 kunjungan tahun ini. Bahkan kondisi ini akan memakan waktu hingga 2026 untuk mencapai tingkat perkiraan awal 2019," ungkap Phil Seymour.

Kondisi ini, laanjutnya, akan berdampak pada pada lessor dan MRO. Kedua industri ini diprediksi akan melakukan pengurangan karyawan dengan cara menawarkan pensiun dini pada staf berpengalaman.

“Ketidakpastian di pasar sewa pesawat komersial beberapa tahun terakhir tiba-tiba diperparah oleh COVID-19, dan kami memperkirakan dampak yang signifikan tidak hanya pada lessor tetapi juga di seluruh ekosistem pasokan– khususnya di sektor MRO,” kata Phil Seymour.

IBA juga sempat membahas soal kondisi extraordinary yang dialami Boeing 737 MAX. Pesawat jenis ini telah digrounded sejak terjadinya kecelakaan pada Lion Air dan Ethiopia Airlines. Jenis MAX 8 diduga memiliki serangkaian masalah teknis yang perlu ditangani. 

Saat diputuskan untuk digrounded, pesawat jenis MAX 8 ini masih tetap diproduksi. Kini pesawat-pesawat tersebut juga harus dikembalikan pada lessor. Secara total, lebih dari 750 pesawat akan dikembalikan ke pihak lessor.

“Sangat penting bagi Boeing untuk mempersiapkan kembali beroperasinya MAX 8 dan memastikan tanpa insiden. Mengingat banyaknya jumlah pesawat yang dikembalikan, kami memperkirakan proses ini akan memakan waktu hingga dua tahun,” kata Phil Seymour.


Editor : Jeanny Aipassa

BERITA TERKAIT