WASHINGTON, iNews.id - Presiden Bank Dunia atau World Bank David Malpass telah berencana memberikan keringanan utang yang lebih ambisius kepada negara-negara miskin di dunia. Langkah tersebut diambil setelah dia memperingatkan resesi ekonomi akibat Covid-19 pada negara miskin dapat berubah menjadi depresi.
Dalam hal ini, depresi ekonomi disebabkan oleh resesi yang berkelanjutan dan membutuhkan waktu yang lama untuk bisa diatasi. Dengan begitu, dapat digambarkan bahwa depresi ekonomi adalah kondisi yang lebih parah dari resesi ekonomi.
Oleh sebab itu, Bank Dunia tahun ini mengangkat prospek penghapusan utang sistematis pertama sejak perjanjian Gleneagles 2005, mengingat angka kemiskinan dunia akan bertambah 100 juta jiwa akibat krisis Covid-19.
“Kondisi ini lebih buruk daripada krisis keuangan tahun 2008 dan untuk Amerika Latin ini akan lebih buruk daripada krisis utang tahun 1980-an. Masalahnya adalah, salah satunya kemiskinan, kami pun telah membuat kemajuan dalam 20 tahun terakhir, di mana sebagian populasi telah berhasil keluar dari kemiskinan," ujar Malpass dikutip dari The Guardian pada Senin (24/8/2020).
Malpass menyebut, negara-negara miskin akan terpukul lebih parah oleh dampak ekonomi akibat Covid-19. Saat krisis melanda, ketidaksetaraan akan lebih menonjol, karena stimulus dari negara-negara maju ditujukan kepada negara-negara maju pula, sehingga masalah ketimpangan yang besar akan semakin parah. Menurut dia, resesi bahkan lebih buruk di negara berkembang daripada di negara maju.