Dirilis Oktober 2017, Transaksi Kartu Debit Logo GPN Capai Rp11,58 T

Isna Rifka Sri Rahayu
ilustrasi. (Foto: Ant)

BI fokus menyasar kartu debit karena penggunanya yang lebih besar dibandingkan uang elektronik. Selain itu, BI juga ingin membuat infrastruktur di industri perbankan makin efisien, terutama ATM dan mesin EDC (electronic data capture).

"Kita paham infrastruktur yang ada beragam dan tersegmentasi akhirnya banyak platform perlu biaya investasi banyak dikeluarkan. Banyak kartu, banyak EDC dan mesin ATM atau lebih 120.000, sementara EDC lebih 1,2 juta," kata dia.

Selain itu, sebelum adanya GPN, biaya yang dikenakan kepada merchant (merchant discount rate/MDR) relatif lebih tinggi dibandingkan negara tetangga. MDR Indonesia sekitar 1,6 persen hingga 2,2 persen sedangkan regional ASEAN sekitar 0,2 persen hingga 1 persen.

"Lalu keamanan data belum bisa merdeka karena masih terselenggara di bank komersil," ucapnya.

GPN dioperasikan oleh tiga lembaga yaitu Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) sebagai lembaga standar kartu ATM/debet dan uang elektronik, lembaga switching mencakup Artajasa, Alto, dan Jalin, serta lembaga jasa keamanan nasabah, termasuk perlindungan konsumen yang menjadi tanggung jawab PT Penyelesaian Transaksi Elektronik Nasional (PTEN). 

Editor : Rahmat Fiansyah
Artikel Terkait
Makro
4 hari lalu

Breaking News: BI Rilis Aturan Baru Beli Dolar AS, Kini Dibatasi Maksimal 50.000 per Bulan

Nasional
4 hari lalu

BI Tahan Suku Bunga Acuan 4,75 Persen di Maret 2026

Nasional
5 hari lalu

Utang Luar Negeri RI Naik Jadi Rp7.389 Triliun per Januari 2026

Nasional
15 hari lalu

Cadangan Devisa RI Turun Jadi 151,9 Miliar Dolar AS per Februari 2026, Ini Penyebabnya

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal