Dia memberikan contoh ketika seseorang ditawari investasi saham dengan klaim mampu memberikan keuntungan hingga 100 persen hanya dalam satu hari. Tawaran seperti itu perlu dipertanyakan secara rasional, bukan langsung dipercaya karena terlihat menguntungkan.
Hal serupa juga berlaku ketika seseorang tertarik pada aset kripto. Menurut Luqman, setiap aset memiliki karakteristik dan risiko yang berbeda sehingga calon investor perlu memahami potensi keuntungan sekaligus kemungkinan kerugiannya.
"Jadi, untuk mencegah FOMO, yang pertama tadi kita sudah menggunakan teknologi informasi, menggunakan AI. Kunci barrier yang terakhir adalah apakah ini logis secara penalaran kita,” tuturnya.
Luqman menilai FOMO bukan sesuatu yang sepenuhnya dapat dihilangkan. Namun, dorongan untuk mengikuti tren tersebut dapat dikendalikan dengan meningkatkan literasi sebelum mengambil keputusan.
Dia mencontohkan seseorang yang mendapatkan informasi mengenai produk dengan iming-iming bunga atau keuntungan tertentu. Karena melihat tawaran tersebut menarik, orang tersebut bisa saja langsung membuka produk tanpa memahami cara kerja, risiko, maupun syarat dan ketentuannya.