"Maka kita harus naikkan bunga dan kita kendalikan neraca perdagangan kita. Artinya negara itu butuh devisa dari luar negeri. Bisa karena FDI (foreign direct investment), bisa karena masuk ke capital market," ucapnya.
Kendati demikian, saat 2015-2017 di tengah tren kenaikan FFR, BI berhasil menurunkan suku bunga acuan. Hal ini disebabkan Indonesia menjinakkan hingga turun ke level 3 persen. Selain itu, defisit transaksi berjalan juga berada di bawah 2 persen terhadap PDB.
Sejak Mei 2018, Mirza menyebut bank sentral cukup agresif menaikkan suku bunga meski inflasi rendah. Hal ini karena defisit transaksi berjalan mulai melebar.
"Jadi ekonomi Indonesia banyak terpengaruh dengan suku bunga AS dan ini terlihat dari 2000 sampai 2018. Ternyata korelasinya kuat, nothing to do dengan presidennya siapa," kata Mirza.