JAKARTA, iNews.id - Bank Indonesia (BI) menyatakan, siapapun presiden yang akan terpilih nanti, ekonomi RI akan tetap terpengaruh dengan kebijakan normalisasi moneter bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (Fed).
Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara menyebut, ada korelasi yang kuat selama antara kebijakan The Fed dengan ekonomi RI khususnya soal suku bunga dan kurs rupiah. Pada 2001 misalnya, Fed memangkas suku bunga acuan Fed Fund Rate (FFR) untuk menggerakkan ekonomi AS yang terkena dampak pemboman Menara World Trade Center (WTC).
"BI merespons dengan penurunan suku bunga acuan dan nilai tukar rupiah dapat menguat," kata Mirza di Graha CIMB, Jakarta, Jumat (16/11/2018).
Namun, pada 2004-2005 FFR mulai naik sehingga rupiah melemah dan BI terpaksa menaikkan suku bunga acuam. Kemudian pada 2009 saat AS menurunkan FFR ke level 0,25 persen akibat krisis global, suku bunga BI ikut turun dan rupiah menguat.
Pada 2013, kata Mirza, rupiah mulai melemah sehingga BI menaikkan suku bunga. Hal ini dikarenakan saat itu The Fed memberikan isyarat menaikkan FRR sehingga membuat mata uang negara-negara lain melemah.