Perlu diketahui bahwa tekanan atmosfir bumi standarnya 101,32 kilopaskal.
Penemuan tersebut kedengarannya sangat dahsyat. Namun masih banyak persoalan teknis yang dihadapi, seperti faktor keselamatan dan biaya sebagaimana dikemukakan Sun Zhang, seorang profesor dan pakar perkeretaapian dari Shanghai Tongji University.
"Kereta api itu harus bisa berhenti kapan saja diperlukan. Hal itu bisa dilakukan di ruang terbuka dengan memanfaatkan resistensi udara. Namun akan menjadi persoalan karena tabung hampa (di teknologi tersebut) tidak ada resisteni udaranya," katanya sebagaimana dikutip Global Times.
"Bagaimana jika tabung aus dan udara masuk ke sistem teknologi itu? Bukankah ini akan menjadi persoalan lain?" ujar Sun mengingatkan.
Dalam teknologi perkeretaapian, China terus berupaya keras bisa menyaingi Jepang. Pada 2015, Jepang telah berhasil menjalankan kereta maglev dengan kecepatan maksimum 603 kilometer per jam, seperti laporan The Guardian, surat kabar harian asal London, Inggris.