JAKARTA, iNews.id - Pemerintah memutuskan akan mengimpor jagung untuk pakan ternak sebanyak 50.000 hingga 100.000 ton. Jagung ini nantinya ditujukan untuk kebutuhan peternak mandiri.
Ekonom dari Universitas Indonesia Fithra Faisal Hastiadi mengatakan, kebijakan impor ini harus dilakukan karena untuk menurunkan harga daging ayam. Hal ini menurutnya disebabkan oleh biaya pakan yang tinggi.
Seperti diketahui, harga jagung pakan ternak semakin melonjak menjadi Rp5.200 per kg, melampaui harga pokok penjualan (HPP) yang dipatok Rp4.000 per kg.
"Kalau kita melihat harga daging ayam itu kan agak tinggi salah satunya karena biaya pakan agak tinggi kaya jagung itu hal yang krusial. Karena kita bicara mengenai pakan ternak dan supply and demand tidak matching jadi harus ada impor," ujarnya saat dihubungi iNews.id, Sabtu (3/11/2018).
Kendati demikian, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementan memperkirakan, produksi jagung pada Juni-September 2018 sebesar 7,18 juta ton pipilan kering (PK). Dari sisi konsumsi, diperkirakan pada bulan tersebut kebutuhannya mencapai 5,13 juta ton PK yang terdiri untuk konsumsi langsung, industri pakan, peternak layer, industri pangan lainnya dan produksi benih.