Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto. (Foto: dok iNews)
Jeanny Aipassa

JAKARTA, iNews.id - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mendorong Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengembangkan basis teknologi masa depan. 

“Jika pada awalnya BPPT dibangun untuk mendorong basis mekatronika dengan industri dirgantara, maka saat ini perlu digeser ke digital mulai dari Artificial Intelligence (AI), Coding dan Bio Science. Dengan adanya Covid-19, bio teknologi ini yang harus didorong ke depan,” ujar Airlangga Hartarto, dalam puncak acara ulang tahun BPPT, Senin (23/8/2021).

Dia menjelaskan, di tengah usaha Pemerintah untuk mendorong berbagai sektor yang terdampak pandemi Covid19 sejak tahun 2020 lalu, terdapat beberapa sektor yang menunjukkan capaian pertumbuhan yang positif dan cukup tinggi serta menunjukkan resiliensinya dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga berhasil mencapai 7,07 persen (yoy) pada kuartal II 2021. 

Beberapa sektor tersebut, diangtaranya Informasi dan Komunikasi, Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial, serta subsektor Industri Kimia, Farmasi, dan Obat Tradisional.

Menurut Menko Perekonomian, hal ini menunjukkan bahwa sektor ekonomi yang memiliki tingkat teknologi yang tinggi mampu bertahan pada masa pandemi, sehingga ke depan tentunya perlu didukung dengan riset, inovasi, serta teknologi yang maju.

“Di sini back up inovasi dan teknologinya menjadi penting. Tentu sustainability economy development menjadi penting untuk mencapai target, seperti Perjanjian Paris, COP Glassgow, apalagi Indonesia akan menjadi presidensi pertemuan G20 di 2022 dan memimpin ASEAN pada 2023, dan persiapan untuk carbon trading," ujar Airlangga Hartarto.

Dia menjelaskan, untuk transformasi menuju energi baru dan terbarukan, salah satu yang perlu terus didorong adalah yang berbasis metan. Kemudian juga terkait dengan recycle dan renewable energi berbasis kepada sampah dan juga yang berbasis kepada solar panel, solar farm, baik yang di darat maupun floating solar dan roof solar ini beberapa yang perlu diakselerasi karena kita mempunyai target bauran daripada energi.

Dalam mendorong pengembangan riset dan inovasi, lanjutnya, pemerintah juga telah memberikan insentif pajak super tax deduction untuk lembaga penelitian serta dunia usaha pada riset dan pengembangan. 

“Pemanfaatannya selama ini belum maksimal, sehingga tentu butuh sosialisasi yang lebih erat. Tools yang sebetulnya alat untuk mendorong kerjasama antara privat industri dan akademik itu sudah ada. Insentifnya sudah ada, tinggal ini dikapitalisasi dan dimanfaatkan. Diharapkan kita bisa memperdalam struktur perkonomian berbasis ilmu pengetahuan dan
teknolgi,” tutur Menko Airlangga.

Dia berharap pertumbuhan riset menuju ekonomi hijau, ekonomi berkelanjutan mengurangi polusi, menggunakan sumber daya yang lebih efisien dan melakukan kegiatan-kegiatan yang berbasis kepada bahan bakar hijau atau green fuel.

“Kita sudah punya success story B30 yang mana dengan B30, harga kelapa sawit sudah mencapai harga tertinggi atau kita sebut super cycle. Ini perlu terusdidorong untuk terus mendorong ekspor kita. Dengan demikian kebijakan B30 mendorong kekuatan kita di sektor energi dan tentu walaupun sekarang B30 sudah dikatakan membuat Indonesia menjadi negara bio diesel terbesar di dunia, lebih besar dari Brazil, namun kita dari segi inovasi harus tetap satu langkah ke depan dengan mempersiapkan B100,” kata Menko Airlangga.

Kemudian, terkait dengan digitalisasi atau industry 4.0, di tahun 2018, Presiden Joko Widodo telah meluncurkan “Making Indonesia 4.0” yang diharapkan sudah terakselerasi. Adanya pandemi Covid-19, mau tidak mau Indonesia masuk di era digitalisasi. Menko Airlangga mengatakan bahwa big data dan data center pada era ini merupakan “new petrochemical”.

Dalam kesempatan tersebut, Menko Airlangga mengharapkan sumbangsih dari BRIN maupun BPPT dalam penanganan pandemi Covid-19, terutama dalam pengembangan Vaksin Merah Putih dan adaptasi teknologi lainnya yang diharapkan di tahun 2022 bisa dipanen. 

“Karena kita berharap ketergantungan terhadap impor vaksin bisa berkurang dan biaya yang selama ini digunakan untuk impor vaksin ke depannya bisa digunakan penuh untuk mendorong kemampuan teknologi dan bio science Indonesia,” ungkap Menko Airlangga.



Editor : Jeanny Aipassa

BERITA TERKAIT