Analis pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan pasar masih mencermati prospek kebijakan The Federal Reserve (The Fed) serta data ketenagakerjaan AS. Investor juga bersikap hati-hati setelah tiga pejabat The Fed yang sebelumnya berbeda pandangan dalam rapat kebijakan pekan lalu kembali menegaskan pada Jumat bahwa inflasi masih berada di level terlalu tinggi.
"Mereka berpendapat bahwa kenaikan suku bunga segera diperlukan demi menjaga kredibilitas bank sentral dalam upaya pengendalian inflasi," kata Ibrahim dalam risetnya, Senin (4/8/2026).
Dari dalam negeri, aktivitas manufaktur Indonesia kembali masuk fase ekspansi pada Juli 2026 setelah mengalami kontraksi pada bulan sebelumnya.
Meski demikian, pemulihan sektor industri dinilai masih berjalan bertahap. Kenaikan biaya bahan baku, melemahnya permintaan ekspor, serta sikap hati-hati pelaku usaha dalam pembelian bahan baku masih menjadi faktor yang membatasi pertumbuhan.
Dengan mempertimbangkan berbagai sentimen tersebut, Ibrahim memperkirakan rupiah masih berpotensi berada dalam tekanan hingga penutupan perdagangan hari ini.Dia memproyeksikan rupiah bergerak dalam rentang Rp17.990 hingga Rp18.040 per dolar AS.