Laporan NFP yang lebih kuat dari perkiraan mendukung argumen bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga atau bahkan menaikkannya karena para pejabat menilai dampak inflasi dari harga energi yang lebih tinggi. Fokus pasar minggu ini adalah data inflasi AS terbaru berupa Indeks Harga di tingkat Konsumen AS yang akan dirilis hari Rabu.
Dari sentimen domestik, kegelisahan pasar atas agenda pengeluaran besar-besaran Presiden Prabowo terhadap program politik yaitu Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih, membuat defisit neraca transaksi berjalan melebar. Pelebaran defisit tersebut, terjadi seiring menyusutnya surplus perdagangan Indonesia.
Selain itu, pemerintah harus menghitung ulang dengan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) yang begitu besar akibat lonjakan harga minyak mentah setelah penutupan Selat Hormuz di Timur Tengah oleh Iran, sehingga kebutuhan dolar AS tinggi dan membuat utang pemerintah semakin membengkak.
Kemudian, Bank Indonesia mencatat cadangan devisa mencapai 144,9 miliar dolar AS atau setara Rp2.590,2 triliun pada akhir Mei 2026. Cadangan devisa tersebut turun dari bulan sebelumnya sebesar 146,2 miliar dolar AS.
Bahkan, jika ditarik data historis lebih jauh maka cadangan devisa di level 144,9 miliar dolar AS itu merupakan rekor terendah baru sejak Juni 2024 (saat itu cadangan devisa di level 140,2 miliar dolar AS atau dalam 23 bulan terakhir.
Posisi cadangan devisa pada akhir Mei 2026 itu setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor atau 5,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
Oleh sebab itu, BI menilai cadangan devisa tersebut masih mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Bank sentral turut meyakini ketahanan sektor eksternal akan tetap terjaga dengan cadangan devisa tersebut.