Kesengsaraan Sri Lanka memuncak pada Juli ketika Presiden sebelumnya Gotabaya Rajapaksa meninggalkan negara itu dan mengundurkan diri setelah protes publik yang diwarnai kekerasan.
Penggantinya, Ranil Wickremesinghe telah berhasil mencapai kesepakatan awal dengan IMF yang akan memberikan negara itu pinjaman sebesar 2,9 miliar dolar AS selama empat tahun.
Pinjaman Sri Lanka begitu kompleks, sehingga perkiraan totalnya berkisar 85 miliar dolar AS hingga lebih dari 100 miliar dolar AS.