The Fed meningkatkan suku bunga acuan sebesar 0,75 persen atau 75 basis poin pada hari Rabu. Hal ini dilakukan untuk melawan lonjakan inflasi yang tinggi. (Foto: AFP)
Aditya Pratama

WASHINGTON, iNews.id - Federal Reserve (The Fed) meningkatkan suku bunga acuan sebesar 0,75 persen atau 75 basis poin pada hari Rabu (15/6/2022) waktu setempat. Hal ini dilakukan untuk melawan lonjakan inflasi yang tinggi.

Mengutip USA Today, strategi ini kemungkinan akan semakin memperlambat ekonomi dan meningkatkan risiko resesi. Bahkan, hal ini telah memicu aksi jual yang signifikan di pasar.

Kenaikan suku bunga ini merupakan yang terbesar sejak 1994. Dengan meningkatnya suku bunga acuan turut menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi.

Kenaikan suku bunga memacu pergerakan indeks saham. S&P 500 yang jatuh pada awal pekan ini berhasil ditutup naik 54 poin atau 1,5 persen.

Pejabat The Fed memperkirakan tingkat dana federal akan berakhir 2022 pada kisaran 3,25 persen hingga 3,5 persen, dan tahun depan mendekati 4 persen. Kenaikan ini memberi sinyal adanya kenaikan seperempat poin yang lebih tinggi di akhir tahun ini.

"Saya tidak mengharapkan pergerakan sebesar ini menjadi umum," ujar Ketua The Fed Jerome Powell dikutip, Kamis (16/6/2022).

Powell menambahkan, The Fed mungkin akan memilih opsi antara kenaikan setengah poin dan tiga perempat poin pada pertemuannya di bulan Juli mendatang.

"Kami pikir tindakan tegas diperlukan pada pertemuan ini, dan hari ini kami menyampaikannya. Kami tidak akan menyatakan kemenangan sampai kami benar-benar melihat bukti yang meyakinkan, bukti kuat bahwa inflasi akan turun," kata dia.

Powell menyebut, kenaikan suku bunga ini dilakukan untuk mengekang pinjaman dan meredakan lonjakan inflasi. Ini turut menurunkan untuk memacu pinjaman, kegiatan ekonomi, dan pertumbuhan pekerjaan.

Tingkat suku bunga yang lebih tinggi secara tajam kemungkinan akan semakin memperlambat ekonomi. The Fed mengatakan pada hari Rabu bahwa mereka memperkirakan ekonomi akan tumbuh 1,7 persen pada 2022 dan 2023, turun dari perkiraan Maret masing-masing 2,8 persen dan 2,2 persen. 

Tingkat pengangguran diprediksi akan berada di atas level terendah dalam 50 tahun, naik menjadi 3,7 persen pada akhir tahun, dan 4,1 persen pada akhir 2024. 


Editor : Aditya Pratama

BERITA TERKAIT