PETALING JAYA, iNews.id – Isu utang pemerintah menjadi buah bibir di kalangan masyarakat Malaysia setelah Perdana Menteri Mahathir Mohamad menyebut utang pemerintah Najib Abdul Razak menembus 1 triliun ringgit (RM), setara Rp3.500 triliun (1 RM=Rp3.500).
Sontak, pernyataan Mahathir membuat publik kaget karena nominal tersebut membuat rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) mencapai 80,3 persen. Padahal, data resmi yang dirilis pemerintah menunjukkan utang pemerintah Malaysia RM686,8 miliar atau Rp2.813 triliun dengan rasio terhadap PDB sekitar 50,8 persen.
“Saya mendapat informasi bahwa utang kita sebenarnya RM1 triliun, tapi sekarang kita tengah mengkaji dan mencari cara bagaimana mengurangi utang ini,” kata Mahathir, beberapa hari yang lalu, dikutip dari The Star.
Pria yang genap berusia 93 tahun pada Juli 2018 ini menyebut, beberapa opsi yang menjadi pertimbangan untuk memangkas utang ribuan triliun itu antara lain mengkaji ulang sejumlah proyek raksasa dan memotong gaji para menteri.
Menteri Keuangan Malaysia yang baru, Lim Guan Eng, mengatakan, perhitungan tersebut tidak hanya mencakup utang, tapi juga liabilitas pemerintah terhadap sejumlah proyek. Pemerintahan baru, kata Lim, ingin membangun prinsip tata kelola keuangan yang berdasarkan pada kompetensi, akuntabilitas, dan transparansi demi mendeteksi masalah keuangan dan mencari langkah awal (pre-emptive) untuk menangkalnya.