Sementara itu, persoalan yang dihadapi Martha terkait teror klinik juga memasuki babak baru. Bersama Rifky, Martha berhasil menginterogasi Anto yang diduga menjadi pelaku teror terhadap klinik.
Dari pengakuan Anto, nama Prisil ikut terseret dalam kasus tersebut. Mendengar hal itu, Martha langsung murka dan mendatangi Prisil di sebuah kafe.
Martha memberikan ancaman akan melaporkan Prisil kepada polisi. Terdesak dengan situasi tersebut, Prisil akhirnya menangis dan memohon maaf kepada Martha.
Prisil juga berjanji tidak akan mengganggu Martha lagi. Namun, permintaan maaf tersebut ternyata tidak serta-merta membuat dendamnya hilang.
Di balik tangis dan permintaan maafnya, dendam Prisil justru semakin membara. Hal itu berpotensi menjadi masalah baru yang mengancam kehidupan Martha dan Luna.