Diagnosis H. pylori tidak cukup hanya berdasarkan gejala. Dokter dapat menggunakan sejumlah pemeriksaan, termasuk tes feses dan *urea breath test* atau tes napas urea.
Pada kondisi tertentu, dokter juga dapat melakukan endoskopi saluran pencernaan bagian atas dan mengambil sampel jaringan dari lambung untuk diperiksa.
Tes lanjutan juga dapat dilakukan setelah pengobatan untuk memastikan bakteri sudah berhasil dihilangkan. Mayo Clinic menyebut pemeriksaan ulang umumnya dilakukan setidaknya empat minggu setelah antibiotik selesai, sesuai pertimbangan tenaga kesehatan.
H. pylori merupakan infeksi bakteri sehingga pengobatannya membutuhkan obat untuk membasmi bakteri tersebut. Dokter umumnya menggunakan kombinasi dua atau lebih antibiotik bersama obat yang membantu menurunkan produksi asam lambung. Dalam kondisi tertentu, obat yang mengandung bismut juga dapat digunakan.
Pengobatan perlu dijalani sesuai petunjuk dokter. Jika bakteri tidak berhasil dibasmi, dokter dapat melakukan pemeriksaan dan memberikan kombinasi obat yang berbeda.
Sementara itu, pengalaman Sandrinna terkait kopi, teh, rasa cemas dan sensasi di dada merupakan keluhan yang dia ceritakan secara pribadi. Keluhan tersebut tidak dapat dianggap sebagai gejala khas H. pylori pada semua orang karena manifestasi infeksi dapat berbeda dan sebagian penderita bahkan tidak mengalami gejala.
Jika seseorang mengalami nyeri perut yang terus-menerus, muntah darah, muntah berwarna seperti ampas kopi, tinja berwarna hitam, penurunan berat badan yang tidak jelas penyebabnya, pusing hingga pingsan, pemeriksaan medis diperlukan untuk mencari penyebab dan kemungkinan komplikasi.