Budi menjelaskan PM2,5 merupakan partikel yang berukuran kurang dari 2,5 mikrometer. Karena ukurannya sangat kecil, partikel tersebut dapat masuk ke saluran pernapasan dan mencapai bagian dalam paru-paru.
Paparan PM2,5 dari asap karhutla dapat memicu berbagai gangguan kesehatan. Beberapa di antaranya berupa iritasi mata, tenggorokan gatal, batuk, hingga sesak napas.
Kondisi tersebut juga perlu menjadi perhatian bagi masyarakat yang memiliki penyakit paru kronis. Paparan asap dapat memperburuk kondisi kesehatan dan meningkatkan risiko gangguan pernapasan.
Untuk mengurangi paparan, masyarakat di wilayah terdampak karhutla disarankan menggunakan masker ketika harus beraktivitas di luar rumah. Masyarakat juga diminta membatasi aktivitas di luar ruangan, terutama ketika kualitas udara sedang buruk.
Selain itu, masyarakat dianjurkan rutin memantau indeks kualitas udara melalui aplikasi atau sumber informasi resmi. Informasi tersebut dapat membantu warga menentukan apakah kondisi udara masih aman untuk melakukan aktivitas di luar rumah.
Kemenkes juga mengingatkan masyarakat agar tidak menyepelekan gejala gangguan pernapasan akibat paparan asap karhutla. Warga yang mengalami sesak napas, batuk menetap, nyeri dada, atau iritasi mata berat disarankan segera mencari pertolongan medis di puskesmas atau rumah sakit terdekat.
Dengan meningkatnya sebaran karhutla, kewaspadaan terhadap kualitas udara menjadi penting. Penggunaan masker dan pembatasan aktivitas di luar ruangan menjadi langkah yang dapat dilakukan untuk membantu melindungi kesehatan dari paparan PM2,5.